Suara.com - Pemutusan hubungan kerja alias PHK menjadi ancaman para pekerja di masa pandemi Covid-19. Hal ini rupanya berimbas pada naiknya masalah kesehatan jiwa.
Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Kalimantan Selatan Melinda Bahri S. Psi, Psikolog mengungkapkan masalah kejiwaan yang banyak ditemui adalah kecemasan tertular COVID-19 dan kecemasan kehilangan pekerjaan.
Melalui psikoedukasi yang diartikan pemberian edukasi, seperti tata cara penyelesaian masalah sederhana, masyarakat dapat lebih kuat membentengi diri dari sisi psikologis dampak lebih buruk akibat situasi sulit saat ini.
"Pandemi telah berdampak ke segala sektor kehidupan dan ekonomi, jadi yang paling terpukul tentunya mayoritas dari masyarakat khawatir akan terganggu perekonomiannya, selain takut terhadap COVID-19 itu sendiri," katanya dilansir ANTARA.
Ia mengatakan pihaknya banyak melakukan psikoedukasi untuk membantu masyarakat menghadapi kecemasan selama pandemi COVID-19.
"Kita harapkan masyarakat bisa selfcare atau pemeliharaan terhadap diri sendiri. Untuk itulah, psikoedukasi penting terus dilakukan, baik melalui flayer yang diposting di media sosial IPK maupun webinar," tambahnya lagi.
Psikolog Klinis RSUD dr H Moch Ansari Saleh Banjarmasin ini
Melinda juga rajin membuat selebaran antistigma bagi tenaga kesehatan, pasien COVID-19, penyintas dan keluarga pasien agar semua orang saling menguatkan menghilangkan pikiran negatif yang justru bisa menjatuhkan.
Seorang Psikolog Klinis, ungkap Melinda, memberikan pelayanan meliputi asesmen, penegakan diagnosa dan intervensi yang berkaitan dengan masalah psikologis atau gangguan kejiwaan.
Ia mengatakan sebenarnya tubuh manusia secara psikologis memiliki imun terhadap permasalahan yang selalu dihadapi manusia.
Baca Juga: Malah Sukses Usai Di-PHK, Produk Edi Terjual hingga ke Amerika dan Eropa
Individu akan mampu menyelesaikan sendiri permasalahannya jika pemaknaan dirinya terhadap permasalahan tersebut ringan.
Namun, saat masalah datang terus menerus dan kadar permasalahan menjadi sedang hingga berat tentu psikis tidak sanggup menampung permasalahannya.
Hingga pada akhirnya tingkat stres pun berubah dari ringan menjadi sedang ke berat. Kemudian terjadi perubahan perilaku seperti menarik diri, sulit tidur, kehilangan minat dalam interaksi sosial, murung, tidak berdaya dan putus asa.
Jika sudah muncul perubahan perilaku seperti ini, perlu untuk berkonsultasi ke psikolog klinis.
"Individu membutuhkan penanganan tepat, yaitu psikoterapi agar permasalahan yang dihadapi tidak mengarah ke gangguan kejiwaan lebih berat," tutur jebolan Psikologi Universitas Islam Bandung itu.
Melinda mengaku terkadang suka miris kalau melihat masyarakat yang masih takut berkonsultasi ke psikolog lantaran masih ada stigma dan juga ketakutan akan labeling yang sebenarnya tidak benar.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal