Suara.com - Otoritas Kesehatan Denmark pada Kamis menghentikan penggunaan vaksin virus Covid-19 AstraZeneca selama 14 hari. Ini mengikuti laporan dari kasus serius pembekuan darah di antara orang yang divaksinasi.
Dilansir dari DW, tak lama setelah pengumuman itu, Islandia mengikutinya. Badan Obat Denmark mengatakan telah meluncurkan penyelidikan terhadap vaksin tersebut.
Penyelidikan sedang dilakukan oleh lembaga terkait di negara-negara Uni Eropa lainnya serta Badan Obat-obatan Eropa (European Medicines Agency / EMA).
EMA bertanggung jawab atas evaluasi dan pengawasan produk obat di UE.
"Kami dan Badan Obat-obatan Denmark harus menanggapi laporan kemungkinan efek samping yang serius, baik dari Denmark dan negara-negara Eropa lainnya," kata direktur Otoritas Kesehatan Denmark, Soren Brostrom, dalam sebuah pernyataan.
Banyak orang di Jerman enggan mendapatkan vaksin yang dikembangkan oleh AstraZeneca. Sementara itu, AstraZeneca mengatakan bahwa vaksin itu tunduk pada kontrol kualitas yang ketat.
Dikatakan, "tidak ada efek samping serius yang dikonfirmasi terkait dengan vaksin itu."
EMA tidak menemukan bukti yang menghubungkan kasus Austria dengan vaksin AstraZeneca, kata badan tersebut pada hari Rabu. Dikatakan jumlah kejadian tromboemboli - ditandai dengan pembentukan gumpalan darah - pada orang yang telah menerima vaksin AstraZeneca tidak lebih tinggi dari yang terlihat pada populasi umum.
Ada 22 kasus peristiwa serupa yang dilaporkan di antara 3 juta orang yang menerima suntikan AstraZeneca pada 9 Maret.
Baca Juga: Indonesia Beli Vaksin dari China Hingga India, Menkes Budi: Takut Embargo
Sebanyak tujuh negara Eropa kini telah menghentikan penggunaan batch vaksin dari AstraZeneca. Austria berhenti menggunakan suntikan AstraZeneca saat menyelidiki kematian akibat gangguan koagulasi dan penyakit emboli paru.
Estonia, Lituania, Luksemburg dan Latvia juga telah menghentikan penyuntikan sementara penyelidikan berlanjut.
Namun, Menteri Kesehatan Spanyol Carolina Darias mengatakan negaranya akan terus memberikan vaksin tersebut dan belum menemukan kasus pembekuan darah yang terkait dengannya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
-
Daftar Saham IPO Paling Boncos di 2025
Terkini
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan
-
Susu Creamy Ala Hokkaido Tanpa Drama Perut: Solusi Nikmat buat yang Intoleransi Laktosa
-
Tak Melambat di Usia Lanjut, Rahasia The Siu Siu yang Tetap Aktif dan Bergerak