Suara.com - Mata mungkin memang menjadi jendela kesehatan Anda. Dalam hal ini, kondisi mata disebut bisa menjadi tanda risiko kesehatan tertentu.
Melansir dari Medicinenet, para peneliti menemukan bahwa orang dewasa yang lebih tua dengan penyakit mata retinopati berisiko lebih tinggi mengalami stroke serta kemungkinan gejala demensia. Rata-rata dari mereka meninggal lebih cepat daripada orang seusia mereka yang tidak memiliki kondisi mata.
Retinopati mengacu pada penyakit retina, jaringan penginderaan cahaya di bagian belakang mata. Kondisi ini sering disebabkan oleh diabetes atau tekanan darah tinggi di mana keduanya dapat merusak pembuluh darah kecil yang memasok retina.
Retinopati dapat menyebabkan perubahan penglihatan, seperti kesulitan membaca atau melihat benda yang jauh. Pada tahap selanjutnya, pembuluh darah yang rusak dapat bocor dan menyebabkan gangguan penglihatan seperti bintik hitam atau guratan seperti sarang laba-laba.
Penelitian telah mengaitkan retinopati yang lebih parah dengan risiko stroke yang lebih tinggi. Keduanya saling terkait karena sama-sama melibatkan penyakit pembuluh darah.
Dalam studi baru, para peneliti menemukan bahwa orang dengan tanda-tanda retinopati dua kali lebih mungkin untuk melaporkan riwayat stroke dibandingkan mereka yang tidak memiliki bukti penyakit mata. Mereka juga 70 persen lebih mungkin melaporkan masalah memori, berpotensi mengalami demensia.
Selama dekade berikutnya, orang dengan retinopati paling parah menghadapi risiko kematian dua hingga tiga kali lebih tinggi.
"Tidak jelas apakah retinopati benar-benar meramalkan masalah stroke atau ingatan di masa depan," kata ketua peneliti Dr. Michelle Lin, asisten profesor neurologi di Mayo Clinic di Jacksonville.
Lin mendorong penderita retinopati untuk berkonsultasi dengan dokter mereka guna mengendalikan faktor risiko penyakit kardiovaskular, termasuk stroke dan penyakit jantung.
Baca Juga: Asupan Nabati Turunkan Risiko Kematian Demensia Perempuan hingga 21 Persen
Penelitian ini akan dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Stroke Association yang diadakan pada tanggal 17-19 Maret. Studi yang dilaporkan pada pertemuan umumnya dianggap pendahuluan sampai diterbitkan dalam jurnal peer-review.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
Terkini
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama
-
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
-
Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
-
Self-Care Berkelas: Indonesia Punya Layanan Kesehatan Kelas Dunia yang Nyaman dan Personal
-
Lupakan Diet Ketat: Ini 6 Pilar Nutrisi Masa Depan yang Bikin Sehat Fisik dan Mental di 2026
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Rahasia Puasa Tetap Kenyang Lebih Lama Tanpa Loyo, Ini Pendamping Sahur yang Tepat
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak
-
Zero-Fluoroscopy, Solusi Minim Risiko Tangani Penyakit Jantung Bawaan Anak hingga Dewasa