Suara.com - Pemerintah Republik Indonesia siap menambah pembelian vaksin COVID-19 menjadi 426 juta. Hal ini dikatakan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI.
"Untuk vaksinnya, kita persiapkan untuk membeli sebanyak 426 juta vaksin, sebanyak 275 juta di antaranya sudah konfirmasi positif untuk harga dan jadwal pengirimannya," katanya saat Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR yang dipantau dari siaran langsung, di Jakarta, Senin.
Menkes mengatakan ada sebanyak 151 juta dosis vaksin yang belum terkonfirmasi jadwal pengiriman serta harga dikarenakan pemerintah masih masih menunggu vaksin gratis yang berasal dari The Global Alliance for Vaccines and Immunisation (GAVI) lewat skema multirateral.
Saat ini Indonesia sudah memperoleh 11,7 juta vaksin GAVI, bahkan informasi terakhir yang diterima Menkes jumlah itu bisa naik sampai 54 juta hingga 108 juta vaksin.
"Kalau bisa mendapatkan semaksimal mungkin secara gratis, maka tidak usah beli vaksin bilateral. Ini masih bergerak terus. Kita ketahui bersama bahwa vaksin ini rebutan di seluruh dunia," katanya.
Vaksin Gotong Royong telah diterbitkan penggunaannya melalui Permenkes pada 5 Maret 2021 melalui penugasan yang diberikan kepada PT Biofarma dan dilanjutkan melalui kerja sama Biofarma dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin).
"Yang membeli vaksin Gotong Royong nanti Biofarma sebagai BUMN, kemudian Biofarma bisa menjual ke korporasi dan oleh korporasi harus diberikan gratis kepada karyawan atau keluarganya. Sengaja vaksin ini dibeli Biofarma untuk memastikan vaksin ini asli karena Biofarma sudah bergerak di bidang ini," katanya.
Untuk memastikan agar program vaksin Gotong Royong tidak menganggu jalannya program vaksinasi pemerintah, kata Budi, maka ditentukan jenis vaksin yang berbeda dari empat jenis vaksin punya pemerintah, yakni Sinovac, AstraZeneca, Novavax dan Pfizer.
Sejauh ini jenis vaksin yang sudah dikonfirmasi akan digunakan dalam program vaksinasi Gotong Royong berasal dari Sinopharm dan Moderna.
Baca Juga: Sudah Divaksin Tapi Belum Terima Sertifikat Digital? Ini Kata Kominfo
Kemenkes hingga saat ini masih menunggu harga dan jumlah dari kedua jenis vaksin tersebut berdasarkan hasil kesepakatan Biofarma dan Kadin. Kalau jumlah dan harga sudah disepakati, Kemenkes akan mengeluarkan aturannya.
"Agar tidak rebutan dengan program pemerintah ditentukan lokasi fasilitas pelayanan kesehatan yang berbeda. Gotong Royong ini lebih menggunakan fasilitas swasta. Kemudian sistem database menggunakan database yang sama supaya kita bisa monitor yang bersangkitan divaksin siapa dan awasi Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) supaya bisa dijaga bersama-sama," tutup Budi Gunadi Sadikin. [ANTARA]
Berita Terkait
-
Ramai BPJS PBI Nonaktif, Menkes Sebut Solusi Masih Dibahas Pemerintah
-
28 Juta Warga Indonesia Berpotensi Alami Masalah Kesehatan Jiwa, Apa yang Terjadi?
-
Menkes Sentil Kebiasaan Orang RI Ngerasa Sehat Padahal Gula Tinggi: Itu Mother of All Diseases
-
Menkes Budi: 28 Juta Orang Indonesia Berpotensi Alami Masalah Jiwa, Layanan Kini Dibawa ke Puskesmas
-
Menkes Tegaskan Kusta Bukan Kutukan: Sulit Menular, Bisa Sembuh, Fatalitas Hampir Nol
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
-
Gempa M 4,2 Guncang Pacitan Terasa hingga Yogyakarta: 7 Orang Luka dan Sejumlah Bangunan Rusak
-
Hakim PN Depok Tertangkap Tangan Terima Ratusan Juta dari Swasta, KPK Lakukan OTT!
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
Terkini
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!