Suara.com - Penyakit tuberkulosis (TBC) identik dikenal dengan batuk berdahak tak kunjung sembuh akibat kerusakan terjadi di paru. Penyakit yang disebabkan bakteri mycobacterium tuberculosis itu juga menyerang organ lain atau biasa disebut TBC ekstra paru.
"Tuberkulosis tidak hanya menyerang paru tetapi juga dapat menyerang ekstra paru atau organ lain di luar paru. Seperti kelenjar getah bening kemudian otak atau saraf dan tulang. Bisa juga TBC ginjal," kata dokter spesialis paru dr. Silmi Kaffah, Sp.P., dalqm siaran langsung Radio Kesehatan Kemenkes, Senin (22/3/2021).
Dokter Silmi menyampaikan, TBC ekstra paru sering terjadi pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah mulai dari anak-anak hingga lansia. Tetapi orang dengan imunitas rendah seperti pasien HIV-AIDS, perokok juga memiliki kontak erat dengan pasien TB menjadi kelompok rentan tertular.
Secara umum, penularan setiap TBC sama. Yakni, melalui droplet yang dikeluarkan langsung oleh pasien TBC ketika batuk atau bersin. Bisa juga karena menggunaan alat makan yang sama dalam waktu bersamaan.
Orang yang mengalami TBC paru akan langsung terdeteksi melalui oemeriksaan foto thorax. Dokter Silmi menjelaskan, kondisi paru pada pasien TBC pasti terdapat bercak putih pada bagian atas. Kondisi itu yang menyebabkan pasien alami batuk berdahak hingga nyeri dada.
"Batuk berdahak lebih dari 2 minggu, umumnya berdahak bisa disertai atau tanpa darah. Kemudian terdapat sesak nafas, nyeri dada, berat badan menurun, nafsu makan menurun. Kemudian keringat malam," paparnya.
Pada pasien TBC ekstra paru, rasa nyeri bisa timbul pada area berbeda, tergantung dari organ yang terinfeksi bakteri.
"Ada namanya TB tulang bisa gejalanya terdapat nyeri punggung atau tidak dapat berjalan. Kemudian TBC kelenjar, gejalanya terdapat benjolan di kelenjar getah bening poli atau daerah leher atau bisa juga kelenjar getah bening lain. Kemudian meningitis TB atau selaput otak umumnya sakit kepala bisa juga TBC usus dengan gejala seperti nyeri perut," jelasnya.
Dokter Silmi mengingatkan, salah satu gejala TBC yang harus diwaspadai adalah batuk yang tidak kunjung sembuh. Ia menyarankan jika batuk terus terjadi selama berminggu-minggunsebaiknya segera periksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan (fasyankes).
Baca Juga: Bukan Bersin, Batuk 10 Kali Lebih Berisiko Tularkan Virus Corona Covid-19
"Kalau ada gejala batuk tak kunjung sembuh tentunya harus waspada mungkin itu bisa jadi salah satu gejala penyakit TB atau overlapping selama Covid, kita tidak pernah tahu. Kalau anjuran dari segera datang untuk berobat fasyankes terdekat," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026