Suara.com - Otak mungkin berperan dalam memicu sindrom patah hati yang secara resmi dikenal sebagai sindrom Takotsubo (TTS). Sindrom ini adalah masalah jantung sementara di mana berpotensi mematikan yang disebabkan oleh situasi dan emosi yang membuat stres.
Melansir dari Medicinenet, studi yang yang diterbitkan European Heart Journal ini memastikan adanya peningkatan aktivitas metabolik yang terkait stres di otak di mana dapat meningkatkan risiko sindrom tersebut. Dalam studi ini, para peneliti menganalisis pemindaian pencitraan otak dari 41 orang yang kemudian mengembangkan sindrom tersebut.
"Area otak yang memiliki aktivitas metabolik lebih tinggi cenderung lebih banyak digunakan. Oleh karena itu, aktivitas yang lebih tinggi di pusat otak yang terkait dengan stres menunjukkan bahwa individu memiliki respons yang lebih aktif terhadap stres," kata penulis senior studi Dr. Ahmed Tawakol, direktur kardiologi nuklir dan wakil direktur Pusat Penelitian Pencitraan Kardiovaskular di Rumah Sakit Umum Massachusetts.
Para peneliti menemukan bahwa aktivitas yang meningkat di amigdala otak memprediksi TTS berikutnya, serta waktu terjadinya sindrom tersebut. Misalnya, orang dengan aktivitas tertinggi di amigdala mengembangkan sindrom tersebut dalam setahun setelah pemindaian otak. Sementara orang dengan aktivitas menengah di amigdala mengembangkan sindrom tersebut beberapa tahun kemudian.
"Kami menunjukkan bahwa TTS terjadi tidak hanya karena seseorang menghadapi peristiwa menyedihkan," kata Tawakol dalam rilis berita rumah sakit.
"Sebaliknya, individu dengan aktivitas otak yang berhubungan dengan stres tinggi dan tampak prima bisa mengembangkan TTS," imbuhnya.
Studi ini juga menemukan hubungan antara aktivitas otak terkait stres dan aktivitas sumsum tulang pada individu.
Sumsum tulang menghasilkan berbagai jenis sel darah yang membawa oksigen, meningkatkan respons kekebalan dan pembekuan darah, sehingga aktivitas otak terkait stres dapat memengaruhi aktivitas sel yang memengaruhi kesehatan jantung.
"Studi harus menguji apakah pendekatan semacam itu untuk mengurangi aktivitas otak berhubungan dengan stres menurunkan kemungkinan TTS," kata Tawakol.
Baca Juga: Studi: Ibu Hamil dan Pascamelahirkan Alami Stres Lebih Besar selama Pandemi
Dia juga mencatat perlunya lebih banyak penelitian untuk memeriksa bagaimana pengurangan stres atau perawatan obat untuk mengurangi aktivitas otak terkait stres dapat bermanfaat bagi kesehatan jantung.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi