Suara.com - Varian baru virus corona ditemukan di Bristol, dan dicurigai dapat menginfeksi kembali orang yang sudah pernah menderita Covid-19 atau yang telah divaksinasi.
Dilansir dari BBC, varian virus corona Bristol telah ditentukan oleh New and Emerging Respiratory Virus Threats Advisory Group (Nervtag) sebagai mutasi E484K, yaitu mutasi yang juga ditemukan pada varian virus corona yang ditemukan di Afrika Selatan dan Brasil.
Penelitian laboratorium telah menunjukkan bahwa virus dengan mutasi tersebut dapat melarikan diri dari pertahanan manusia, membuatnya lebih efisien dalam menghindari kekebalan alami maupun kekebalan yang didapat dari vaksin.
Pemimpin kelompok Retrovirus-Host Interactions Laboratory di Francis Crick Institute, Dr Jonathan Stoye mengatakan data menunjukkan mutasi E484K dapat mengurangi respons kekebalan orang-orang terhadap Covid-19.
Lewat cuitannya di Twitter, Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), menyebut bahwa E484K dijuluki double mutant atau mutan ganda. Pasalnya, E484K ini mengandung tidak hanya satu, tetapi dua mutasi mengkhawatirkan dalam komposisi genetiknya yang telah diidentifikasi U.S. Centers for Disease Control and Prevention.
Dikatakan pula oleh Prof. Zubairi, dalam sebuah pengujian di laboratorium, E484K terbukti membantu virus korona menghindari antibodi yang dihasilkan oleh infeksi sebelumnya, sehingga membuatnya kurang rentan terhadap obat antibodi, termasuk vaksin.
E483K ini, lanjut Prof. Zubairi, merupakan mutasi varian P.1, yang diketahui memiliki tingkat keparahan lebih tinggi pada kelompok anak muda. Setidaknya, ada tiga varian yang kini jadi perhatian para ahli, yaitu B117 yang berasal dari Inggris, B1351 di Afrika Selatan, dan yang terbaru P1 di Brasil.
“E484K ini juga sudah ada dalam variant of concern VOC-nya WHO per 1 April 2021, dan juga VOC-nya CDC Amerika Serikat per 24 Maret 2021. Di Indonesia, E484K ini sudah terdeteksi sejak Februari 2021 di Jakarta, saat pemeriksaan oleh Lembaga Eijkman,” cuitnya lagi.
Dan karena E484K ini kurang rentan terhadap antibodi, maka tentu akan ada dampaknya pada efikasi vaksin. Meski demikian, menurut Prof Zubairi, harus ditunggu hasil studi lanjutan dan bagaimana efeknya terhadap vaksin yang selama ini beredar.
Baca Juga: Seperti Corona, Virus Ini juga Berpotensi Menimbulkan Pandemi di Masa Depan
Yang penting, Prof. Zubairi mengingatkan agar kita tetap pakai masker, cuci tangan memakai sabun dan air mengalir, plus menjaga jarak.
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
Terkini
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan
-
Susu Creamy Ala Hokkaido Tanpa Drama Perut: Solusi Nikmat buat yang Intoleransi Laktosa