Suara.com - Memar pada bagian tubuh tertentu kerap dialami oleh sejumlah orang. Memar atau bekas luka ini lebih sering muncul karena terbentur suatu benda tumpul.
Memar terjadi ketika darah terperangkap di bawah kulit, biasanya karena benturan yang merusak pembuluh darah kecil. Beberapa orang menemukan bahwa mereka mudah memar sehingga mereka tidak ingat penyebab aslinya.
Sementara yang lain mengalami memar besar setelah cedera ringan atau menyadari bahwa memar mereka membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sembuh.
Jika melihat memar yang tidak biasa, itu bisa mengindikasikan hati atau liver dalam masalah dan menuju penyakit hati berlemak. Demikian seperti dilansir dari Express UK.
Ketika hati seseorang menjadi jauh lebih buruk, produksi protein yang membantu pembekuan darah dapat berhenti. Akibatnya, seseorang mungkin mengalami pendarahan yang berlebihan dan menemukan bahwa memar adalah hal yang sering terjadi.
Seseorang juga bisa menjadi sangat gatal, merasa sangat lelah, melihat bengkak di kaki dan melihat semburat kuning di mata dan kulit. Menguningnya bagian putih mata (atau dikenal sebagai penyakit kuning) adalah tanda penyakit hati berlemak yang berkembang.
Penyakit kuning juga mempengaruhi pewarnaan kulit, memberikan semburat kuning. Jaringan parut pada hati juga dapat menyebabkan sakit perut, atau perasaan kenyang, di sisi kanan atas perut.
Seseorang dengan kondisi ini mungkin mengalami mual, kehilangan nafsu makan atau penurunan berat badan. Banyak orang dengan penyakit kuning juga memiliki urin gelap dan tinja berwarna terang, kata MSD Mutual
Situs kesehatan tersebut menambahkan, perubahan ini terjadi ketika penyumbatan atau masalah lain mencegah bilirubin dikeluarkan dalam tinja, menyebabkan lebih banyak bilirubin dibuang dalam urin.
Baca Juga: 5 Makanan Ini Bisa Bikin Bahagia, Salah Satunya Ikan Berlemak
Bilirubin terbentuk ketika hemoglobin dipecah sebagai bagian dari proses normal daur ulang sel darah merah tua atau rusak. Bilirubin dibawa dalam aliran darah ke hati, di mana ia terikat dengan empedu.
Jika bilirubin tidak dapat dipindahkan melalui hati dan saluran empedu dengan cukup cepat, itu menumpuk di dalam darah dan disimpan di kulit. Hasilnya adalah penyakit kuning.
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!