Suara.com - Para ilmuwan tengah mengupayakan pengobatan untuk memulihkan kebutaan yang disebabkan oleh penyakit mata bawaan atau disebut retinitis pigmentosa.
Dalam sebuah makalah yang diterbitkan Senin (24/5/5/2021) di jurnal Nature Medicine, para peneliti yang bekerja dengan perusahaan GenSight Biologics SA yang berbasis di Paris melaporkan bahwa seorang pria berusia 58 tahun yang didiagnosis dengan retinitis pigmentosa saat usia remaja dapat menemukan objek yang diletakkan di atas meja. Kondisi itu terjadi setelah pria tersebut menerima terapi eksperimental.
Perusahaan Bionic Sight LLC yang berbasis di Kota New York mengumumkan pada bulan Maret bahwa empat orang tunanetra dalam uji klinis tahap awal sekarang dapat mendeteksi cahaya dan gerakan setelah menjalani perawatan serupa. Tetapi hasil tersebut belum dipublikasikan.
Semua pasien memiliki kasus retinitis pigmentosa lanjut, yang dialami oleh lebih dari dua juta orang di seluruh dunia. Semua menjalani terapi optogenetik, di mana suntikan digunakan untuk mengirimkan gen ke dalam mata untuk meningkatkan sensitivitas cahaya dari sel-sel tertentu di retina, lapisan jaringan di bagian belakang mata.
Dr. Anand Swaroop, peneliti senior di National Eye Institute di Bethesda, Md., menyebut terapi optogenetik sebagai pilihan yang menarik untuk beberapa orang buta, tetapi bukan obatnya.
"Begitu penglihatan hilang sama sekali, memulihkan penglihatan yang memungkinkan resolusi tinggi, sensitivitas tinggi, dan deteksi tinggi tidaklah sederhana," kata Swaroop dikutip dari Fox News.
GenSight mengatakan pihaknya juga mengembangkan terapi sebagai pengobatan untuk degenerasi makula, penyebab utama kehilangan penglihatan pada orang yang berusia di atas 50 tahun.
Penggunaan terapi gen untuk mengobati kebutaan bukanlah hal baru. Luxturna, obat resep yang disetujui pada 2017 oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS, digunakan pada anak-anak dan orang dewasa yang mengalami retinitis pigmentosa yang disebabkan oleh mutasi genetik tertentu. Editas Medicine of Cambridge, Mass. sedang menguji pengeditan gen Crispr pada pasien retinitis pigmentosa dengan mutasi gen yang berbeda.
Tetapi retinitis pigmentosa dapat disebabkan oleh mutasi pada lebih dari 70 gen yang berbeda. Dokter mengatakan terlalu mahal dan sulit untuk mengembangkan terapi gen untuk semuanya.
Baca Juga: Studi: Mandi Pakai Lensa Kontak Berisiko 7 Kali Sebabkan Kebutaan
Optogenetika menawarkan kemampuan untuk mengobati kebutaan yang disebabkan oleh retinitis pigmentosa terlepas dari mutasi gen spesifik yang mendasarinya.
"Ini adalah gen-agnostik," kata Dr. Brian Brooks, direktur klinis National Eye Institute.
Memulihkan penglihatan adalah tujuan penting bagi para ilmuwan dan dokter, dan banyak strategi lain sedang dilakukan di laboratorium akademis maupun perusahaan, termasuk terapi mata bionik dan sel punca selain obat-obatan dan optogenetik.
Dalam penglihatan normal, sel peka cahaya di retina yang dikenal sebagai fotoreseptor, mengubah cahaya menjadi sinyal listrik yang berjalan ke sel ganglion terdekat. Sel-sel ini kemudian mengirimkan sinyal melalui saraf optik ke otak, yang mengubahnya menjadi persepsi visual. Pada retinitis pigmentosa dan kelainan retina herediter serupa, fotoreseptor rusak dan berhenti bekerja.
Terapi optogenetik mengatasi masalah itu dengan melewati fotoreseptor, menggunakan gen yang disuntikkan untuk memberikan kepekaan cahaya pada sel ganglion yang merespons cahaya yang dipancarkan ke mata oleh kacamata.
Versi teknologi optogenetika saat ini memiliki beberapa keterbatasan, menurut para ilmuwan di balik penelitian tersebut. Hanya sebagian kecil dari sel ganglion pasien yang dirawat, membatasi potensi manfaatnya. Pasien yang dirawat belum tentu bisa kembali mendapatkan semua penglihatannya. Mereka tetap sulit untuk membaca, mengemudi, atau mengenali wajah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
Terkini
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!
-
Tidak Semua Orang Cocok di Gym Umum, Ini Tips untuk Olahraga Bagi 'Introvert'