Suara.com - Gejala Covid-19 jangka panjang (Long Covid) dikaitkan dengan lebih dari 200 gejala mulai dari kelelahan dan nyeri sendi hingga kondisi otak dan jantung. Hal ini dinyatakan dalam studi internasional yang dipimpin oleh tim di University College London.
Melansir dari Independent, gejala jangka panjang Covid-19 yang paling umum adalah kelelahan (dialami oleh 98 persen responden), malaise pasca aktivitas (memburuknya gejala setelah aktivitas fisik atau mental, dialami oleh 89 persen), dan disfungsi kognitif, sering disebut kabut otak (dialami oleh 85 persen responden).
Gejala lain termasuk halusinasi visual, tremor, kulit gatal, perubahan siklus menstruasi, disfungsi seksual, jantung berdebar, masalah kontrol kandung kemih, herpes zoster, kehilangan memori, penglihatan kabur, diare, dan tinnitus.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Lancet's EClinicalMedicine ini melibatkan 3.762 peserta dari 56 negara di mana 1.020 di antaranya merupakan kasus terkonfirmasi dan 2.742 yang diduga mengidap Covid-19.
"Meskipun ada banyak diskusi publik seputar Covid-19 yang gejalanya bertahan lama, ada beberapa studi sistematis yang menyelidiki populasi ini karenanya relatif sedikit yang diketahui tentang rentang gejalanya," kata Dr Athena Akrami, seorang ahli saraf di Sainsbury Wellcome Center di UCL dan penulis senior laporan tersebut.
Studi ini menemukan bahwa kemungkinan gejala yang berlangsung lebih dari 35 minggu (delapan bulan) adalah 91,8 persen. Di antara semua responden, 3.608 (96 persen) melaporkan gejala yang berlangsung lebih dari 90 hari, sementara 2.454 (65 persen) mengalami gejala setidaknya selama 180 hari.
Di antara mereka yang mengalami gejala setidaknya selama enam bulan yang paling umum termasuk kelelahan (80 persen), malaise pasca-aktivitas (73 persen), disfungsi kognitif (58 persen), gejala sensorimotor (56 persen), sakit kepala. (54 persen), dan masalah memori (51 persen).
"Untuk pertama kalinya penelitian ini menyoroti spektrum gejala yang luas, terutama neurologis, lazim dan persisten pada pasien dengan Covid yang lama," ujar Dr Akrami.
"Disfungsi memori dan kognitif, yang dialami oleh lebih dari 85 persen responden, adalah gejala neurologis yang paling pervasif dan bertahan, sama-sama umum di semua usia, dan dengan dampak substansial pada pekerjaan," imbuhnya.
Baca Juga: 30 Persen Pelaku Perjalanan Internasional Positif Covid-19 Saat Karantina
Sakit kepala, insomnia, vertigo, neuralgia, perubahan neuropsikiatri, tremor, kepekaan terhadap kebisingan dan cahaya, halusinasi (penciuman dan lainnya), tinnitus, dan gejala sensorimotor lainnya juga umum terjadi. Mereka juga sering kali mengalami masalah neurologis yang lebih besar yang melibatkan pusat dan sistem saraf perifer.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
Terkini
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan