Suara.com - Tak semua kolesterol buruk, sebab ada kolesterol yang nyatanya baik bagi kesehatan. High-density lipoprotein (HDL) adalah kolesterol baik yang bisa membantu menghilangkan kolesterol ekstra dan penumpukan plak di arteri.
Melansir dari Healthshot, kolesterol baik memfasilitasi transfer penumpukan plak ke jantung. Fungsi ini mengurangi risiko penyakit jantung dan penyakit terkait.
Kadar HDL idealnya harus sekitar 60 miligram/desiliter (mg/dL) atau lebih, dan tidak boleh turun di bawah 40 mg/dL. Selain faktor medis seperti obesitas, diabetes, dan merokok, pola makan juga berperan besar dalam menentukan kadar HDL.
Berikut tiga jenis makanan yang bisa meningkatkan kadar kolesterol baik, antara lain:
1. Polong-polongan
Polong seperti buncis, lentil, dan kedelai mengandung zat besi dalam jumlah tinggi. Kaempferol adalah antioksidan yang ditemukan dalam kacang-kacangan dan telah terbukti memberikan manfaat kesehatan seperti mengurangi peradangan kronis.
Mereka juga merupakan sumber folat, magnesium, dan potasium yang baik dan dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung dan menurunkan kadar kolesterol LDL yang merusak dan meningkatkan kadar HDL.
Kacang-kacangan jenis ini tidak hanya akan meningkatkan kadar kolesterol baik tetapi juga menurunkan kolesterol jahat.
2. Kacang-kacangan dan Biji-bijian
Baca Juga: Dijuluki Nenek Terseksi, Model Lingerie Berusia 65 Tahun Bongkar Rahasia Tetap Bugar
Kacang seperti walnut, almond, dan kacang mete merupakan sumber asam folat yang baik. Mereka juga mengandung magnesium, zat besi dan lemak tak jenuh tunggal yang meningkatkan kadar gula darah dan meningkatkan tingkat energi.
Biji-bijian seperti rami, labu dan chia mengandung zat besi dalam jumlah yang cukup. Selain itu, biji ini juga merupakan sumber yang kaya akan magnesium, serat, dan asam lemak omega-3. Profil nutrisi padat ini membantu menangkal penyakit jantung dan meningkatkan kadar HDL.
Selain itu, kacang-kacangan dan biji-bijian juga dilengkapi untuk melindungi sel-sel Anda dari radikal bebas berbahaya yang dihasilkan selama proses metabolisme.
3. Alpukat
Alpukat melawan peradangan, meningkatkan kadar kolesterol HDL dan merupakan sumber magnesium.
Buah ini juga mengandung potasium, vitamin B dan K yang merupakan sumber serat yang sangat baik, sehingga membantu Anda tetap kenyang untuk jangka waktu yang lebih lama. Alpukat memiliki kandungan folat dan lemak tak jenuh tunggal yang tinggi, yang menurunkan kadar LDL dan mengurangi risiko penyakit jantung.
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- 5 Mobil Toyota Dikenal Paling Jarang Rewel, Ideal untuk Mobil Pertama
- 5 HP Murah Alternatif Redmi Note 15 5G, Spek Tinggi buat Multitasking
- 6 Moisturizer Pencerah Wajah Kusam di Indomaret, Harga di Bawah Rp50 Ribu
Pilihan
-
Perilaku Audiens Berubah, Media Diminta Beradaptasi dengan AI dan Medsos
-
Pintu Langit Dibuka Malam Ini, Jangan Lewatkan 5 Amalan Kunci di Malam Nisfu Syaban
-
Siapa Jeffrey Hendrik yang Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI?
-
Harga Pertamax Turun Drastis per 1 Februari 2026, Tapi Hanya 6 Daerah Ini
-
Tragis! Bocah 6 Tahun Tewas Jadi Korban Perampokan di Boyolali, Ibunya dalam Kondisi Kritis
Terkini
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!
-
Tidak Semua Orang Cocok di Gym Umum, Ini Tips untuk Olahraga Bagi 'Introvert'
-
Dehidrasi Ringan Bisa Berakibat Serius, Kenali Tanda dan Solusinya
-
Indonesia Masih Kekurangan Ahli Gizi, Anemia hingga Obesitas Masih Jadi PR Besar
-
Cedera Tendon Achilles: Jangan Abaikan Nyeri di Belakang Tumit
-
Super Flu: Ancaman Baru yang Perlu Diwaspadai
-
3D Echocardiography: Teknologi Kunci untuk Diagnosis dan Penanganan Penyakit Jantung Bawaan
-
Diam-Diam Menggerogoti Penglihatan: Saat Penyakit Mata Datang Tanpa Gejala di Era Layar Digital