Suara.com - Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melakukan kunjungan tingkat tinggi ke China pada Januari lalu, dunia masih belum tahu sebab asal usul virus corona Covid-19 bisa menyebar dan jadi pandemi.
“Pada titik ini kami tidak lebih maju dari tahun lalu,” kata Nikolai Petrovsky, pakar vaksin di Universitas Flinders di Adelaide, Australia, dan salah satu dari 26 pakar global yang menandatangani surat terbuka, yang diterbitkan pada Kamis (23/3). 4), seperti dilansir dair Channels News Asia.
Pada bulan Januari, tim ilmuwan yang dipilih oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengunjungi rumah sakit dan lembaga penelitian di Wuhan, kota di China tengah tempat virus corona diidentifikasi, untuk mencari petunjuk tentang asal-usul COVID-19.
Tetapi misi itu mendapat kecaman, dengan para kritikus menuduh WHO terlalu mengandalkan kerja lapangan dan data China yang dikompromikan secara politis.
Anggota tim juga mengatakan China enggan membagikan data vital yang dapat menunjukkan COVID-19 beredar beberapa bulan lebih awal dari yang pertama kali dikenali.
Surat terbuka itu mengatakan misi WHO "tidak memiliki mandat, independensi, atau akses yang diperlukan untuk melakukan penyelidikan penuh dan tidak terbatas" ke semua teori tentang asal-usul Covid-19.
"Semua kemungkinan tetap ada di atas meja dan saya belum melihat satu pun data ilmiah independen yang mengesampingkan salah satu dari mereka," kata Petrovsky.
Pada konferensi pers untuk menandai berakhirnya kunjungan WHO ke Wuhan, kepala misi Peter Ben Embarek tampaknya mengesampingkan kemungkinan bahwa virus itu bocor dari laboratorium di Wuhan.
Tetapi Petrovsky mengatakan "tidak masuk akal" untuk mengesampingkan kemungkinan apa pun, dan mengatakan tujuan dari surat terbuka itu adalah "untuk mendapatkan pengakuan secara global bahwa belum ada yang mengidentifikasi sumber virus dan kami harus terus mencari.
Baca Juga: Sertifikat Vaksin Tak Muncul di PeduliLindungi? Ini Cara Mengatasinya
"Kita butuh pikiran terbuka dan jika kita menutup beberapa jalan karena dianggap terlalu sensitif, bukan begitu cara kerja sains," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 63 Kode Redeem FF Terbaru 21 Januari: Ada Groza Yuji Itadori, MP40, dan Item Jujutsu
- 36 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 Januari: Klaim TOTY 115-117, Voucher, dan Gems
- 5 Motor Bekas 6 Jutaan Cocok untuk Touring dan Kuat Nanjak, Ada Vixion!
- Mobil 7 Seater dengan Harga Mirip Mitsubishi Destinator, Mana yang Paling Bertenaga?
- Alur Lengkap Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman yang Libatkan Eks Bupati Sri Purnomo
Pilihan
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Fit and Proper Test BI: Solikin M Juhro Ungkap Alasan Kredit Loyo Meski Purbaya Banjiri Likuiditas
-
Dompet Kelas Menengah Makin Memprihatinkan, Mengapa Kondisi Ekonomi Tak Seindah yang Diucapkan?
-
5 Rekomendasi HP Rp1 Jutaan RAM 8 GB Terbaik Januari 2026, Handal untuk Gaming dan Multitasking
-
Harda Kiswaya Jadi Saksi di Sidang Perkara Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Lompatan Layanan Kanker, Radioterapi Presisi Terbaru Hadir di Asia Tenggara
-
Fokus Turunkan Stunting, PERSAGI Dorong Edukasi Anak Sekolah tentang Pola Makan Bergizi
-
Bukan Mistis, Ini Rahasia di Balik Kejang Epilepsi: Gangguan Listrik Otak yang Sering Terabaikan
-
Ramadan dan Tubuh yang Beradaptasi: Mengapa Keluhan Kesehatan Selalu Datang di Awal Puasa?
-
Rahasia Energi "Anti-Loyo" Anak Aktif: Lebih dari Sekadar Susu, Ini Soal Nutrisi yang Tepat!
-
Sinergi Medis Indonesia - India: Langkah Besar Kurangi Ketergantungan Berobat ke Luar Negeri
-
Maia Estianty Gaungkan Ageing Gracefully, Ajak Dewasa Aktif Waspada Bahaya Cacar Api
-
Kolesterol Tinggi, Risiko Diam-Diam yang Bisa Berujung Stroke dan Serangan Jantung
-
Telapak Kaki Datar pada Anak, Normal atau Perlu Diperiksa?
-
4 Rekomendasi Minuman Diabetes untuk Konsumsi Harian, Mana yang Lebih Aman?