- Mayoritas pasien penyakit jantung di Indonesia belum mencapai target LDL kolesterol 70 mg/dL, hanya 8,5% mencapai target risiko sangat tinggi 55 mg/dL.
- Penyebab kegagalan mencapai target meliputi pola hidup, kepatuhan minum obat tidak teratur, dan pilihan dosis obat yang tidak optimal.
- Inovasi baru hadir berupa tablet kombinasi ezetimibe dan rosuvastatin, yang mendukung prinsip penurunan LDL kolesterol secepat dan serendah mungkin.
Suara.com - Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia, termasuk di Indonesia. Namun, penurunan kadar kolesterol jahat pada pasien penyakit jantung masih jauh dari target yang direkomendasikan.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr. Ade Meidian Ambari, SpJP(K), PhD mengatakan mayoritas pasien penyakit jantung belum mencapai target kolesterol jahat atau low-density lipoprotein cholesterol (LDL-C) di angka 70 mg/dL.
"Lebih dari 80% pasien penyakit jantung koroner di Indonesia belum mencapai target LDL-C 70 mg/dL, dan hanya 8,5% yang mencapai target risiko sangat tinggi 55 mg/dL,” kata dr. Ade di Jakarta, Sabtu (29/12/2025).
Padahal, pasien penyakit jantung termasuk kelompok berisiko tinggi mengalami serangan berulang jika kadar LDL-C berada di atas 70 mg/dL.
Health Harvard Edu menjelaskan bahwa angka 70 mg/dL menjadi fokus utama karena penelitian menunjukkan ketika LDL turun di bawah level tersebut, plak di pembuluh darah dapat mengecil dan menjadi lebih stabil. Kondisi ini menurunkan risiko serangan jantung dan stroke.
Bahkan pedoman kesehatan Eropa menyebutkan untuk kadar kolesterol dikatakan benar-benar aman, khususnya bagi mereka yang sangat berisiko tinggi seperti pernah mengalami serangan jantung dan stroke, maka ia harus mencapai target LDL-C di bawah 55 mg/dL.
Lebih lanjut, dr. Ade mengungkapkan ada banyak faktor yang membuat kadar kolesterol masyarakat Indonesia sulit dikendalikan, mulai dari pola hidup, kepatuhan minum obat, hingga pilihan obat yang tersedia.
"Saat kolesterol tinggi biasanya mereka minum obat. Tapi minumnya hanya satu dua hari, jadi merasa nggak mempan. Padahal obat ini butuh waktu, paling enggak sebulan untuk menurunkan kolesterol," ujarnya.
Dari sisi jenis obat, pilihan dosis yang tersedia di pasaran pun sering kali terlalu kecil atau terlalu besar, sehingga penanganan tidak optimal. Jika dosis terlalu besar, efek sampingnya juga ikut meningkat.
Baca Juga: Risiko Serangan Jantung Tak Pandang Usia, Pentingnya Layanan Terpadu untuk Selamatkan Nyawa
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Daewoong menghadirkan Crezet, yaitu tablet kombinasi ezetimibe dan rosuvastatin dosis 10/5 mg yang menjadi inovasi baru dalam penanganan dislipidemia di Indonesia.
Dislipidemia sendiri merupakan kondisi ketika kadar LDL (kolesterol jahat), HDL (kolesterol baik), serta trigliserida berada di level yang tidak normal.
Obat kombinasi ezetimibe dan rosuvastatin hadir dalam tiga varian dosis, yakni 10/5 mg, 10/10 mg, dan 10/20 mg yang dapat disesuaikan dengan kondisi pasien, mulai dari risiko sedang, tinggi, hingga sangat tinggi.
"Pedoman ESC (European Society of Cardiology) menekankan prinsip ‘semakin rendah dan semakin cepat, semakin baik’. Artinya, menurunkan LDL-C sedini mungkin, terutama dengan terapi kombinasi, sangat penting untuk pencegahan," jelas dr. Ade.
Obat kombinasi ini dinilai lebih efektif mengurangi penyempitan pembuluh darah atau aterosklerosis akibat penumpukan lemak. Penyempitan inilah yang bisa memicu serangan jantung hingga stroke.
"Kalau ada penyempitan, itu bisa keras namanya kalsifikasi, atau ada soft plak. Dengan minum obat ini, soft plak-nya bisa hilang, jadi pembuluh darah membaik," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
- Tak Terima Dideportasi, WNA Cina di Sumsel Bongkar Dugaan Kejanggalan Proses Imigrasi
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- 5 Rekomendasi HP All Rounder 2026, Spek Canggih, Harga Mulai 2 Jutaan
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik
-
Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks
-
Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin
-
Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala
-
Jangan Lewat 4,5 Jam! Dokter Ungkap Golden Period Penanganan Stroke yang Bisa Selamatkan Otak
-
Bukan Sekadar Datang Bulan, Ini Fakta Penting Menstruasi Remaja yang Sering Disalahpahami
-
Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter
-
Bukan Sekadar Main Kartu, Domino Kini Diakui sebagai Olahraga Pikiran
-
DBD Menular atau Tidak Lewat Sentuhan? Simak Fakta-faktanya
-
AI Masuk Dunia Wellness: Kursi Pijat Canggih Ini Bisa Baca Stres dan Sesuaikan Relaksasi