Suara.com - Steroid anti-inflamasi mungkin bisa mengatasi masalah pendarahan menstruasi yang berat. Obat steroid ini bisa berupa obat yang dijual umum seperti deksametason.
Melansir dari Medical Xpress, penelitian yang diterbitkan pada EBioMedicine ini membuka jalan bagi deksametason untuk digunakan sebagai terapi yang aman dan efektif untuk perdarahan menstruasi berat.
Ini adalah pertama kalinya steroid anti-inflamasi diujicobakan untuk mengobati pendarahan berat menstruasi.
Perawatan yang paling umum digunakan untuk mengurangi perdarahan menstruasi adalah alat pelepas hormon yang dimasukkan ke dalam rongga rahim. Namun, hampir seperlima pengguna baru tidak puas dengan efek sampingnya, yakni pendarahan yang tidak terduga. Hal ini juga tidak cocok untuk perempuan yang mencoba untuk hamil.
Uji coba yang dilakukan oleh tim dari University of Edinburgh ini melibatkan 107 perempuan berusia antara 21 dhingga 54 tahun yang pernah mengalami perdarahan menstruasi berat selama rentang waktu mulai dari enam bulan hingga 37 tahun.
Studi tersebut menemukan bahwa perempuan yang diberi dosis 0,9 mg deksametason dua kali sehari selama lima hari menunjukkan penurunan rata-rata volume darah menstruasi sebesar 19 persen.
Para peneliti mengatakan bahwa temuan ini menunjukkan deksametason bisa menjadi pilihan pengobatan masa depan bagi perempuan yang mengalami pendarahan menstruasi berat dan membahayakan kualitas hidup atau kesehatan mereka.
Penelitian ini juga dapat digunakan oleh perempuan yang mengalami efek samping perawatan hormonal tetapi tidak menginginkan perawatan bedah, dan mereka yang ingin mencoba kehamilan.
"Menstruasi dan perdarahan menstruasi yang berat masih merupakan topik yang tabu dan dampak yang melemahkan dari yang terakhir ini kurang dilaporkan oleh pasien. Temuan kami membuka jalan untuk studi lebih lanjut tentang deksametason sebagai kemungkinan terapi yang aman dan efektif," kata Hilary Critchley, profesor kedokteran reproduksi di Pusat Kesehatan Reproduksi MRC Universitas.
Baca Juga: Bukan Pecah Keperawanan, Ini 5 Penyebab Darah Keluar dari Vagina Setelah Hubungan Seksual
"Uji coba ini berkembang dari penelitian laboratorium yang inovatif dan kolaborasi multi-disiplin selama bertahun-tahun antara dokter dan ahli metodologi, dikombinasikan dengan keahlian spesialis dalam pendekatan baru yang efisien dan etis untuk desain percobaan," kata Dr. Pamela Warner, pembaca dalam statistik medis di Universitas Usher Institute.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Bos Go Ahead Eagles: Dean James Masih Gunakan Paspor Belanda!
Pilihan
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal