Suara.com - Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga mengatakan pada hari Jumat bahwa dia tidak akan mencalonkan diri lagi sebagai pemimpin partai bulan ini. Ia juga secara efektif mengakhiri masa jabatannya setelah hanya satu tahun, kata sekretaris jenderal partainya.
Suga mengumumkan niatnya untuk mengundurkan diri pada pertemuan darurat anggota senior Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa, kata Toshihiro Nikai kepada wartawan. Demikian seperti dilansir dari France24.
"Hari ini di rapat eksekutif, presiden (partai) Suga mengatakan dia ingin memfokuskan upayanya pada langkah-langkah anti-coronavirus dan tidak akan mencalonkan diri dalam pemilihan kepemimpinan," kata Nikai.
"Jujur, saya terkejut. Ini benar-benar disesalkan. Dia melakukan yang terbaik tetapi setelah mempertimbangkan dengan cermat, dia membuat keputusan ini," tambahnya.
Pengumuman mengejutkan itu datang sebagai respon Suga atas penanganan pemerintahnya terhadap tanggapan terhadap pandemi.
Namun keputusan itu tidak diprediksi sebelumnya. Suga tidak memberikan petunjuk tentang rencananya untuk meninggalkan kantor setelah hanya satu tahun berkuasa dan sebelum mengikuti pemilihan umum pertamanya.
Dia mulai menjabat tahun lalu, melangkah ke pos yang dibiarkan kosong ketika mantan perdana menteri Jepang Shinzo Abe mengundurkan diri karena alasan kesehatan.
Suga secara luas diperkirakan akan mencalonkan diri kembali sebagai pemimpin LDP dalam pemungutan suara yang ditetapkan pada 29 September.
Suga terpukul oleh tanggapan pemerintahnya terhadap pandemi. Ini terjadi saat Jepang berjuang melalui rekor gelombang kelima virus setelah awal yang lambat untuk program vaksinnya.
Baca Juga: Update 3 September: Positif Covid-19 Indonesia Tambah 7.797 Kasus, 15.544 Orang Sembuh
Sebagian besar negara saat ini berada di bawah pembatasan virus, dan tindakan tersebut telah dilakukan di beberapa daerah selama hampir sepanjang tahun.
Tetapi mereka tidak cukup untuk menghentikan lonjakan kasus yang didorong oleh varian Delta yang lebih menular. Bahkan ketika program vaksin telah meningkat dengan hampir 43 persen populasi diinokulasi sepenuhnya. Jepang telah mencatat hampir 16.000 kematian selama pandemi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pilihan HP RAM 16 GB Paling Murah, Penyimpanan Besar dan Performa Kencang
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Prabowo Bakal Copot Lagi Pejabat 'Telur Busuk', Hashim Djojohadikusumo: Semua Opsi di Atas Meja
- 35 Link Poster Ramadhan 2026 Simpel dan Menarik, Gratis Download!
- Lebih Bagus Smart TV atau Android TV? Ini 6 Rekomendasi Terbaik Harga di Bawah Rp3 Juta
Pilihan
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
-
Geger Taqy Malik Dituding Mark-up Harga Wakaf Alquran, Keuntungan Capai Miliaran
Terkini
-
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
-
Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
-
Self-Care Berkelas: Indonesia Punya Layanan Kesehatan Kelas Dunia yang Nyaman dan Personal
-
Lupakan Diet Ketat: Ini 6 Pilar Nutrisi Masa Depan yang Bikin Sehat Fisik dan Mental di 2026
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Rahasia Puasa Tetap Kenyang Lebih Lama Tanpa Loyo, Ini Pendamping Sahur yang Tepat
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak
-
Zero-Fluoroscopy, Solusi Minim Risiko Tangani Penyakit Jantung Bawaan Anak hingga Dewasa
-
Olahraga Saat Puasa? Ini Panduan Lengkap dari Ahli untuk Tetap Bugar Tanpa Mengganggu Ibadah