Suara.com - Kesehatan dan kebugaran fisik merupakan aset penting bagi setiap atlet sebagai modal mengikuti turnamen. Selain pelatih yang mengarahkan atlet dalam setiap persiapan meraih kejuaraan, juga terdapat peran penting dokter spesialis kedokteran olahraga untuk memantau kesehatan fisik dan juga mental atlet.
Khusus edisi Hari Olahraga Nasional hari ini, 9 September, Suara.com mewawancarai dokter spesialis keolahragaan dr. Michael Triangto, Sp.KO., yang beberapa kali ikut terlibat menangani atlet dalam berbagai cabang olahraga.
"Saya pernah terlibat dengan beberapa induk cabang olahraga. Di antaranya sepeda Indonesia, atletik, dan bulutangkis. Kemudian saya juga pernah di cabang olahraga billiar. Dari turnamen saya sudah dari mulai PON, Sea Games, Asian Games, juga Olimpic Sidney tahun 2000," ujar dr. Michael.
Setiap pertandingan, sosok dokter olahraga kerap terlihat di sekitar arena untuk ikut memantau dan membantu atlet saat persiapan maupun sesudah tanding. Namun tindakan di pinggir arena itu sebenarnya hanya sebagian kecil dari tugas dan tanggungjawab dokter olahraga khusus atlet.
"Kalau lihat dokter bantu (atlet) melakukan stretching di pinggir lapangan pertandingan, kemudian di mana-mana itu dilaporkan di medsos apa yang dia kerjakan, itu hanya sebagian kecil daripada tugas seorang dokter olahraga. Karena kita harus mulai dari mereka pendidikan sampai dengan lepas," kata dr. Michael.
Bukan sekadar mengobati atlet yang tengah cedera, dokter bahkan sebenarnya telah bertindak sejak seseorang masih menjadi calon atlet. Berikut penjelasan lebih detail terkait peran dokter keolahragaan bagi atlet.
1. Periksa kemampuan fisik
Calon atlet biasanya dimulai sejak masih usia anak. Sejak itu, peran dokter olahraga juga telah dibutuhkan untuk memastikan calon atlet mencapai tinggi dan berat badan yang optimal.
Setelah bisa mengikuti berbagai turnamen, persiapan atlet akan selalu sama, baik itu untuk pertandingan skala nasional maupun internasional. Selain berlatih secara fisik, atlet juga akan terus dipantau kesehatan fisiknya selama masa latihan. Hal tersebut yang menjadi peran dokter olahraga untuk memastikan atlet bisa bertanding secara optimal dan maksimal.
"Artinya seluruh kemampuan dia bisa keluar dan dia dapat melampaui batasan kemampuannya untuk meraih kemenangan. Dengan demikian persiapan atlet juga harus maksimal, kita harus persiapkan dia," kata dr. Michael.
Baca Juga: SEBAR! 40 Ucapan Selamat Haornas 2021 Hari Olahraga Nasonal, Ada Kata Cristiano Ronaldo
Tugas dokter olahraga harus bisa melihat dan menutupi kekurangan fisik pada atlet. Dr. Michael mencontohkan, bisa saja atlet mengalami kaki yang panjang sebelah, postur badan miring atau skoliosis, maupun cedera pinggang. Kondisi tersebut harus bisa ditangani dokter untuk nantinya disesuaikan dengan porsi latihan.
2. Mengatur pola makan atlet
Setiap atlet dianjurkan makan lebih banyak dari orang yang bukan atlet. Sebab, porsi olahraga mereka yang berat tentu dibutuhkan energi yang lebih banyak pula. Saat itu pula peran dokter harus mengatur asupan makan atlet bukan hanya sekadar banyak, tapi terpenting mencukupi nutrisi yang diperlukan.
"Jangan karena menang makannya jadi macam-macam, pesan dari online, sehingga mengalami kelebihan berat badan. Berarti kita harus mengatur makanan dan berat badannya. Berat badan yaitu harus memiliki yang optimal, agar dia bisa memenangkan pertandingan," ucapnya
Berat badan optimal bagi seorang atlet tidak boleh terlalu kurus karena justru dikhawatirkan tidak cukup tenaga. Juga tidak boleh gemuk agar selama masa berlatih bisa dilakukan dengan maksimal.
3. Berkoordinasi dengan pelatih
Dokter menjadi pihak yang paling mengenal kondisi fisik si atlet. Oleh sebab itu, dokter juga bisa merekomendasikan kepada pelatih jenis latihan yang bisa mengoptimalkan fisik atlet atau bahkan mengurasi porsinya agar tidak memperparah cedera yang ada.
"Sebagai dokter spesialis olahraga, saya juga harus bicara dengan fisioterapi (rekomendasi jenis peregangan pada atlet). Jadi saya menutup kekurangannya supaya bisa mengikuti latihan dari pelatih fisik yang disesuaikan," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif