Suara.com - Sejumlah penelitian menemukan bahwa antibodi yang dihasilkan oleh vaksin Covid-19 turun beberapa bulan usai vaksinasi. Muncul pertanyaan, apakah tubuh masih bisa terlindungi dari ancaman virus ketika antibodi melemah dan hilang?
Menjawab pertanyaan ini, Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, dr Andani Eka Putra mengatakan tubuh manusia tetap dapat mengingat virus meskipun antibodi dalam tubuh telah menghilang.
“Jadi apabila antibodi tersebut habis tidak masalah. Karena ada sel-sel memori atau sel pengingat yang akan menghasilkan antibodi yang lebih cepat dan banyak dibanding dihasilkan di awal,” kata Andani dalam webinar Salah Kaprah Soal Vaksinasi dan Pembentukan Antibodi, dilansir ANTARA.
Andani menyebutkan dalam tubuh manusia, terdapat sel-sel yang dinamakan Antigen Presenting Cell (APC) yang bertugas menanggapi setiap virus, antigen dan protein asing yang masuk ke dalam tubuh.
Setelah sel-sel itu mengidentifikasi virus, maka akan diperkenalkan pada sistem imun yang sebenarnya yakni sistem imun adaptif yang memiliki dua jenis sel, yaitu sel T dan sel B.
Melalui sel T dan sel B, tubuh akan memiliki memori terhadap suatu virus atau cairan vaksin yang masuk dalam tubuh.
“Saya ulangi pada waktu kita dikasih vaksin, partikel-partikel atau bahan-bahan tadi akan ditangkap oleh sel-sel yang berfungsi untuk memperkenalkan protein dan virus tadi kepada sel imun yang sebenarnya. Sel imun yang sebenarnya adalah sel T dan sel B,” ujar dia.
Ia mengatakan, sel T berperan dalam memberikan respon seluler lebih cepat sehingga dapat mengeliminasi jenis komponen yang rusak.
Setelah melakukan proses eliminasi pada komponen-komponen asing yang masuk dalam tubuh, sel T akan mengumpulkan sel yang masih baik untuk ditangkap oleh antibodi dalam tubuh.
Baca Juga: Jokowi Sebut Presentase Vaksinasi di Banten Tinggi: yang Belum Segera Diselesaikan
Selanjutnya sel B akan bekerja untuk menetralisasi komponen yang tersisa agar dapat membentuk sebuah anti bodi yang tidak menempel pada aseptor dan dapat diingat oleh tubuh.
“Sel T pengingat bekerja, sel B efektor bekerja sel T efektor juga bekerja. Dia merusak sel-sel infeksi. Kemudian kalau bakteri, komponen-komponen tadi keluar akan ditangkap antibodi. Antibodi caranya dengan menetralisasinya sehingga tidak menempel pada aseptornya,” kata dia menjelaskan peran dari kedua sel itu.
Ia membeberkan akan berbeda apabila tubuh pernah terinfeksi suatu virus dan telah divaksin namun kembali terinfeksi. Maka jenis virus yang masuk ke dalam tubuh merupakan varian yang berbeda. Sehingga tubuh harus mempelajari dan membentuk memori baru kembali terkait varian itu.
Terakhir, Andani mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir apabila efektivitas vaksin dapat menghilang setelah beberapa bulan usai vaksinasi dilakukan.
Sebab pada dasarnya, antibodi memang akan menghilang namun tubuh dapat tetap mengingatnya.
“Jadi apabila antibodi tersebut habis, tidak masalah. Karena ada sel memori atau sel pengingat yang akan menghasilkan antibodi lebih cepat dan banyak dibanding dihasilkan di awal,” kata dia. [ANTARA]
Berita Terkait
-
Kemenkes Libatkan NU dan Muhammadiyah, Lawan Hoaks Vaksin yang Masih Marak
-
Daftar Lokasi, Jadwal, dan Harga Vaksin HPV Terbaru 2026 di Jogja
-
Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks
-
Membangun Benteng Kesehatan Keluarga: Pentingnya Vaksinasi dari Anak hingga Dewasa
-
Bukan Sekadar Ruam Merah: Ini Bahaya Fatal Campak yang Diabaikan Setelah Pandemi
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia