Suara.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA telah mengeluarkan panduan baru tentang pembatasan kandungan arsenik anorganik yang ditemukan di sereal beras bayi, Rabu (29/9/2021).
FDA telah membatasi kadar arsenik dalam sereal bayi menjadi 100 mikrogram per kilogram (µg/kg) atau 100 bagian per miliar (ppb). Kadar ini sama dengan yang diusulkan pada 2016 lalu.
Pedoman tersebut berlaku untuk semua jenis sereal beras bayi, lapor CNN. Seperti beras putih, coklat, baik yang ditanam secara organik maupun konvensional.
Pada 2019, aliansi ilmuwan dan organisasi nirlaba yang bekerja untuk mengurangi paparan bayi terhadap bahan kimia beracun dalam 1.000 hari pertama, Healthy Babies Bright Futures, telah melakukan pengujian terhadap 168 makanan bayi dari produsen besar di Amerika Serikat.
Hasilnya, 73 persen makanan bayi mengandung arsenik, 95 persen mengandung timbal, 75 persen mengandung kadmium dan 32 persen mengandung merkuri. Seperempat dari makanan mengandung keempat logam berat.
Temuan itu meniru penelitian FDA sebelumnya, yakni terdapat satu atau lebih logam yang sama di 33 dari 39 jenis makanan bayi yang diuji.
Laporan Healthy Babies Bright Futures menunjukkan sereal beras bayi dan makanan ringan berbahan dasar nasi menempati urutan teratas daftar makanan paling beracun untuk bayi.
"Bahkan, dalam jumlah sedikit yang ditemukan di makanan, kontaminan ini dapat mengubah otak yang sedang berkembang dan mengikis IQ anak. Dampaknya bertambah dalam setiap makanan atau camilan yang dimakan bayi," bunyi laporan pada 2017.
Arsenik adalah elemen alami yang ditemukan di tanah, air dan udara, dan bentuk anorganik lah yang paling beracun. Anorganik di sini merupakan istilah kimia dan tidak berhubungan dengan metode pertanian.
Baca Juga: Jangan Asal, Ini Tips Pilih Baju yang Nyaman Untuk Bayi
FDA menjelaskan bahwa beras sangat baik dalam menyerap arsenik anorganik karena ditanam di air dan mengandung konsentrasi tertinggi dari semua makanan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
Pilihan
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi