Suara.com - Orangtua disarankan harus mengontrol rutin kondisi anak pasca disunat. Meski menggunakan metode secanggih apapun, risiko infeksi tetap ada jika terdapat luka yang terbuka akibat perawatan pasca sunat tidak benar.
Luka sunat biasanya sembuh dalam waktu 3-14 hari. Apabila luka bekas sunat tidak sembuh dalam waktu lebih dari dua minggu, orangtua harus segera membawa anak ke dokter.
"Pasca sunat pasti ada luka apapun itu, jadi harus dijaga terus kebersihannya," kata dokter Reisa Broto Asmoro dalam webinar 'Sunat Aman dengan Metode Modern', Senin (22/11/2021).
Beberapa anak biasanya butuh konsumsi obat-obatan ataupun salep untuk mempercepat proses penyembuhan. Dokter Reisa mengingatkan, jika masa penyembuhan pasca sunat tidak diperhatikan dengan baik, maka berisiko sebab komplikasi hingga infeksi.
"Mau pilih metode sunat mana aja, tetap harus ada kontrol setelah dilakukan tindakan," ujarnya.
Mendampingi anak sejak proses sunat dilakukan hingga masa penyembuhan selesai juga jadi tanggungjawab orangtua. Tujuannya, untuk mencegah anak alami trauma. Terlebih, menurut dokter Reisa, usia sunat pada anak di Indonesia rata-rata saat sudah masuk usia sekolah dasar.
"Harus betul-betul didampingi secara psikologi, jangan sampai bikin trauma. Kemudian merawat lukanya harus betul-betul attention khusus," ucap Kepala Komunikasi Satgas Penanganan Covid-19 Pemerintah itu.
Salah satu yang terpenting juga mendampingi anak ketika akan buang air kecil maupun huang air besar.
"Kadang orangtua menganggap sepele jadi anak dibiarkan sendiri tapi ternyata salah caranya. Pengalaman juga, jadi anak teman saya dia itu pakai metode konvensional, ada benangnya di situ. Saat buang air kecil sendiri, dilihat ada sesuatu dikira kurang bersih, ditarik sama dia dikirain kulit kering. Akhirnya copot jahitannya," cerita dokter Reisa.
Baca Juga: Dokter Saran Anak Laki-laki Baiknya Disunat Sejak Bayi, Bagaimana Hukumnya Dalam Islam?
Diakuinya, selalu ada risiko dari segala tindakan medis, termasuk metode sunat. Namun, hal itu selalu bisa dicegah jika metode yang dilakukan baik juga kontrol pasca sunat diperhatikan.
"Komplikasi itu ada macam-macam, termasuk kalau ada infeksi setelah tindakan atau mungkin bengkak enggak sembuh-sembuh. Makanya harus dipastikan kapan harus balik, harus kontrol. Kalau penanganannya lebih cepat diatasi, akan lebih baik," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
Terkini
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026