Suara.com - Para ilmuwan pertama kali menemukan virus corona varian Omicron di Afrika Selatan setelah Institut Nasional Penyakit Menular (NICD) mengurutkan infeksi dari Botswana.
Sejak saat itu, varian Omicron juga terdeteksi di banyak negara di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan lembaga nasional lainnya terus memantau perkembangan situasi.
Dr Angelique Coetzee, ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan, memberikan pembaruan perkembangan signifikan pertama. Dilansir dari Express UK dia menerima tujuh pasien dengan varian pada 18 November.
Dalam pengalamannya, kata dia, sebagian besar penderita penyakit tersebut berusia 40 tahun ke bawah. Tetapi gejala mereka tidak menimbulkan banyak kekhawatiran, karena Dr Coetzee mencatat sebagian besar sejauh ini ringan.
Dia mengatakan "keluhan klinis yang paling dominan" adalah "kelelahan selama satu atau dua hari".
Sakit kepala dan nyeri tubuh dan nyeri menyertainya, dan tanda-tanda "berkaitan dengan infeksi virus normal". Meskipun ada sedikit kekhawatiran di antara orang dewasa saat ini, NICD telah mencatat peningkatan angka rawat inap di antara bayi berusia di bawah dua tahun.
Itu menjadikan mereka kelompok usia yang paling terwakili dari total 452 yang diterima selama periode tersebut.
Sejauh ini, bagaimanapun, dokter belum memiliki kesempatan untuk mengidentifikasi apakah infeksi mereka didominasi Omicron atau tidak.
Ada ketidakpastian tambahan seputar apakah mereka memiliki Covid-19, dengan kasus flu juga meningkat di Tshwane. Terlepas dari itu, jumlah anak dengan penyakit parah masih lebih rendah daripada di atas 60-an.
Baca Juga: Hits Kesehatan: Viagra Berpotensi Cegah ALzheimer Hingga Ada Pandemi Lebih Berbahaya
Saat penyelidikan berlanjut ke varian baru, para ilmuwan telah memperingatkan itu bisa menjadi strain yang dominan.
Dr Rochelle Walensky, direktur Centers for Disease Control (CDC), badan kesehatan masyarakat nasional AS, mengatakan kepada CNN bahwa ada kemungkinan itu bisa mengalahkan Delta.
Dia mengatakan data awal menunjukkan itu "mungkin varian yang lebih menular daripada Delta".
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) sependapat dengan Dr Walensky dalam sebuah pernyataan baru-baru ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi