Suara.com - Satgas COVID-19 menanggapi kritik terhadap Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat alias PPKM yang dinilai menghambat ekonomi dan produktivitas masyarakat.
Menurut Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito, justru PPKM merupakan kunci menuju produktivitas masyarakat yang aman COVID-19.
"Produktivitas masyarakat yang tidak aman berpotensi menyebabkan lonjakan kasus yang justru menurunkan capaian ekonomi jauh lebih besar," kata Wiku mengutip situs resmi Satgas COVID-19.
Untuk lebih memahaminya, Wiku memaparkan 2 hal kunci tersebut. Pertama, positivity rate yang rendah. Positivity rate merupakan proporsi orang positif dari keseluruhan orang yang dites. Jika positivity rate rendah, artinya menunjukkan hanya sedikit orang positif dari keseluruhan orang yang dites.
"Sehingga, dapat disimpulkan bahwa risiko penularan yang ada di komunitas, cenderung kecil," lanjutnya.
Terkait positivity rate, badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan angka dibawah 5% sebagai tolak ukur terkendalinya kasus di masyarakat. Standar ini mencakup hasil yang didapatkan baik dari rapid antigen maupun PCR, tergantung kondisi masing - masing negara.
Kedua, jumlah orang yang dites memadai. Hal ini harus diperhatikan, jika jumlah orang yang dites tidak memadai baik dengan rapid antigen ataupun PCR, maka angka positivity rate tidak akan valid menggambarkan kondisi risiko penularan di tengah masyarakat.
Penyebabnya, karena kedua metode tersebut memiliki tujuan yang berbeda. Yaitu sebagai skrining bagi masyarakat yang akan melakukan perjalanan dan sebagai peneguhan diagnosa memastikan seseorang positif COVID-19.
Testing untuk skrining, bertujuan mengetahui sakit tidaknya seseorang terutama sebelum beraktivitas yang berpotensi menulari orang lain. Seperti mobilitas atau kegiatan perkantoran. Alat skrining yang digunakan seperti rapid antigen, akan lebih menyasar kelompok masyarakat yang sehat. Akurasi rapid antigen juga cenderung lebih rendah dibanding testing untuk tujuan peneguhan diagnosa.
Baca Juga: Jelang Long Weekend, Tingkat Reservasi Hotel di DIY Masih 20 Persen
Sedangkan testing dengan tujuan peneguhan diagnosa seperti PCR, memiliki akurasi yang lebih tinggi, dan lebih banyak digunakan untuk memastikan positif tidaknya orang yang bergejala atau kontak erat.
Kedua testing ini dan kelompok masyarakat yang dites juga akan mempengaruhi angka positivity rate. Seperti testing dengan tujuan peneguhan diagnosa saja dapat menghasilkan angka positivity rate yang lebih tinggi dibanding skrining. Hal ini karena menyasar orang - orang yang kemungkinan besar positif.
Sebaliknya, positivity rate yang didapatkan dari hasil skrining saja, bisa jadi rendah. Namun tidak memberikan gambaran yang valid, sebab hasil dari orang yang kemungkinan besar positif justru tidak terhitung. WHO sendiri saat ini telah menetapkan target testing, yaitu seribu orang diperiksa per 1 juta penduduk.
Untuk itu, testing perlu dilakukan dengan jumlah yang memadai, baik untuk keperluan skrining maupun peneguhan diagnosa. Sebab keduanya berkontribusi atas valid-nya angka positivity rate.
Berita Terkait
-
Kemenkes RI Buka Suara Soal Varian Covid-19 Baru di Singapura, PPKM Bisa Kembali Berlaku?
-
Rayakan Lebaran Tanpa PPKM, Jokowi Sampaikan Ucapan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1444 H
-
Cerita Deka Sempat Nakal Jadi Sopir Travel Gelap saat PPKM, Kini Bisa Bawa Pemudik Secara Legal
-
Wanti-wanti Ketua DPR saat Arus Mudik; Minta Pemerintah Urai Kemacetan, Masyarakat Waspada Penularan Covid
-
Mudik Lebaran Pertama Tanpa PPKM, Perhatikan 4 Hal Ini Agar Aman dan Nyaman!
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW