Suara.com - Korban KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga berisiko alami trauma otak yang lebih parah daripada pemain sepak bola dan tentara.
Tetapi, jumlah pasti orang yang mengalami trauma otak akibat kekerasan dalan rumah tangga di dunia, yang sebagian besar dialami perempuan, tidak diketahui pasti karena tidak pernah didiagnosis.
"Orang-orang mungkin berpikir, seseorang memukul kepalanya atau mendorongnya, bukan masalah besar," kata profesor psikiatri di Universitas Harvard Dr. Eve M. Valera, dikutip dari Fox News.
Pada tahun 1990, dokter di Inggris Dr. Gareth Roberts mengevaluasi otak seorang perempuan berusia 76 tahun yang meninggal setelah bertahun-tahun mengalami pelecehan dari suaminya.
Hasil otopsi menunjukkan bahwa otak perempuan itu mirip dengan pasien Alzheimer. Cara kerja otaknya juga serupa sampai tingkat tertentu dengan petinju yang menderita ensefalopati traumatis kronis.
Kasus itu kemudian menjadi hubungan pertama dalam literatur antara penyakit neurogeneratif dan perempuan yang menjadi korban kekerasan.
Kekerasan pasangan intim (IPV) bisa berupa pelecehan fisik, seksual, atau psikologis dalam hubungan romantis.
Sekitar 68 persen korban IPV mengalami hampir pencekikan, tetapi hanya setengahnya yang memiliki tanda-tanda trauma yang terlihat dengan hanya 15 persen dari mereka yang menunjukkan bukti cedera, kemudian difoto untuk mendokumentasikan pelecehan tersebut, menurut Institut.
Kehilangan kesadaran dapat terjadi dalam hitungan detik dan kematian juga dapat terjadi dalam beberapa menit selama pencekikan.
Baca Juga: Pernah Alami KDRT, Dhena Devanka Tak Trauma Cari Pasangan Baru
Tanda-tanda umum pencekikan termasuk petechiae (bintik-bintik merah kecil yang disebabkan oleh pendarahan di bawah kulit) pada wajah, bola mata dan kelopak mata, pembengkakan, bekas garukan dan lecet di sekitar leher, menurut Strangulation in Intim Partner Violence Fact Sheet.
Lembar fakta juga mencatat bahwa korban mungkin mengeluh kehilangan ingatan, pusing, sakit kepala, suara serak, kesulitan menelan atau bernapas.
Karena gejala ini, korban mungkin mengalami kesulitan memproses peristiwa tersebut dan sering tidak melaporkannya ke polisi. Sehingga banyak serangan dalam rumah tangga yang tidak diketahui, menurut Times.
Meskipun sebagian besar penelitian mengenai gegar otak dan penyakit neurogeneratif berasal dari mempelajari otak laki-laki, beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan terhadap gegar otak sebagian.
Hal tersebut karena laki-laki memiliki leher yang lebih berotot untuk menahan pukulan ke kepala dan perempuan memiliki serabut saraf yang lebih ramping yang menyebabkan jadi lebih mudah bergeser selama trauma.
Perempuan juga mungkin lebih rentan terhadap gejala pasca-gegar otak karena perbedaan hormon seks. Penelitian menunjukkan gangguan progesteron yang mungkin terjadi karena dampak pada kelenjar pituitari di otak.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat