Suara.com - Seorang pria harus menjalani perawatan intensif setelah mengalami cedera langka akibat masturbasi.
Mulanya, pria 20 tahun itu datang ke unit gawat darurat dengan keluhan nyeri dada dan sesak napas sebelum menjalani perawatan intensif.
Setibanya di rumah sakit, ia bercerita baru saja melakukan masturbasi sambil berbaring di tempat tidur ketika ia pertama kali mengalami gejalanya.
Setelah diperiksa, dokter menemukan wajah pria asal Swiss itu bengkak. Akhirnya, petugas medis menemukan bahwa ia menderita cedera paru-paru yang biasanya disebabkan oleh batuk atau olahraga berat.
Karena itu, ia harus menjalani perawatan intensif semalam dan rawat inap di rumah sakit selama 3 hari. Sementara itu, dokter pun berusaha menghilangkan rasa sakitnya.
Dokter mendiagnosis pasien pria itu dengan pneumomediastinum (SPM). SPM adalah kondisi di mana udara bocor dari paru-paru dan bersarang di tulang rusuk.
Petugas medis melalui laporan di Radiology Case Reports mengatakan udara yang terperangkap telah menyebar ke tengkorak pria itu.
Sinar-X menunjukkan adanya udara yang terperangkap di ruang antara dada dan kantung paru-paru.
Rupanya, pasien memiliki riwayat asma. Tapi, pria itu menyangkal dirinya merokok atau menggunakan narkoba.
Baca Juga: Ona Sutra Sempat Stroke Ringan sebelum Meninggal, Seberapa Bahaya Kondisi Ini?
Para petugas medis mengatakan kondisi itu biasanya terjadi pada pria, dengan usia rata-rata 23 tahun.
Pasien biasanya membutuhkan perawatan bedan dan beberapa lainnya mungkin membutuhkan selang dada.
Untungnya, para ahli mengatakan bahwa kemungkinan kondisi tersebut muncul kembali setelah perawatan hanya satu persen.
Pasien Swiss itu dirawat di rumah sakit dan diberikan parasetamol serta obat-obatan lainnya sampai nyeri dada dan sesak napasnya benar-benar hilang.
"Hanya ada beberapa laporan SPM yang terkait dengan aktivitas seksual dan kami tidak dapat menemukan kasus yang terkait dengan autoerotisisme, yang membuat kasus kami tidak biasa," kata petugas medis dikutip dari The Sun.
Anda perlu tahu bahwa SPM adalah kondisi langka dan biasanya tidak mengancam jiwa. Gejala biasanya datang mendadak dan parah, termasuk sesak napas, nyeri dada dan leher serta muntah. Anda juga bisa mengalami kesulitan menelan dan suara serak.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia