Suara.com - Update Covid-19 global per Selasa (10/5/2022) pagi tercatat penambahan kasus positif maupun angka kematian. Masing-masing bertambah 325.509 kasus dan 990 orang meninggal, data pada situs worldometers.
Amerika Serikat kembali memimpin kasus positif harian terbanyak di dunia, setelah kurang lebih empat bulan alami penurunan infeksi. Negeri Paman Sam tersebut melaporkan 47.364 kasus.
Angka kematian AS juga terbanyak kedua setelah Rusia, keduanya hanya selisih 1 angka. AS melaporkan 102 jiwa dan Rusia 103 jiwa.
Dengan begitu, akumulasi data Covid-19 global tercatat 517,6 juta kasus dengan 6,27 juta jiwa.
Shanghai dan Beijing Masih Lockdown
Pemerintah China masih berlakukan lockdown ketat di dua kota terbesarnya, Shanghai dan Beijing, pada Senin (9 Mei). Keputusan itu kembali menimbulkan frustrasi di antara penduduk.
Meskipun belum ada pengumuman resmi, selama akhir pekan beberapa penduduk di empat, dari 16 distrik di Shanghai, menerima pemberitahuan bahwa mereka tidak bisa lagi meninggalkan rumah atau menerima pengiriman sebagai bagian dari upaya untuk menurunkan infeksi virus corona.
Kemarahan publik terhadap pembatasan ketat itu kembali beredar di media sosial. Tersebar video pihak berwenang yang memaksa penduduk yang terkonfirmasi Covid-19 agar pergi ke karantina terpusat dan menuntut agar mereka menyerahkan kunci rumah untuk didesinfeksi.
Para ahli hukum di China menegaskan kalau tindakan itu melanggar hukum.
Baca Juga: Kasus Covid-19 Makin Bertambah, Pengusaha di Beijing Dapat Keringanan Biaya Sewa Toko
Dikabarkan oleh Channel News Asia, salah satu video yang beredar menunjukkan polisi mengambil kunci setelah seorang penduduk menolak untuk membuka pintu.
China masih bersikeras untuk menerapkan kebijakan dengan target nol-Covid, meskipun ada masalah bermunculan dalam sektor ekonomi.
Pemerintah China justru menunjukkan data angka kematian yang jauh lebih tinggi di negara-negara lain akibat telah melonggarkan pembatasan karena berupaya hidup berdampingan dengan Covid-19.
"Kita harus bersikeras mengatur arus dan kontrol pergerakan orang," kata pemerintah kota Shanghai dalam menanggapi pertanyaan Reuters tentang pembatasan terbaru.
Pada Senin (9/5), Shanghai melaporkan penurunan kasus baru selama 10 hari berturut-turut.
Sementara itu, di Ibukota Beijing, penduduk yang berada di daerah paling parah wabah infeksinya, diminta bekerja dari rumah. Banyak jalan, kompleks, dan taman juga telah ditutup.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Motor Gigi Tanpa Kopling: Praktis, Irit, dan Tetap Bertenaga
- 5 Rekomendasi HP Layar Lengkung Murah 2026 dengan Desain Premium
- 5 Lipstik Ringan dan Tahan Lama untuk Usia 55 Tahun, Warna Natural Anti Menor
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- Lula Lahfah Pacar Reza Arap Meninggal Dunia
Pilihan
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Fit and Proper Test BI: Solikin M Juhro Ungkap Alasan Kredit Loyo Meski Purbaya Banjiri Likuiditas
Terkini
-
Hari Gizi Nasional: Mengingat Kembali Fondasi Kecil untuk Masa Depan Anak
-
Cara Kerja Gas Tawa (Nitrous Oxide) yang Ada Pada Whip Pink
-
Ibu Tenang, ASI Lancar: Kunci Menyusui Nyaman Sejak Hari Pertama
-
Kisah Desa Cibatok 1 Turunkan Stunting hingga 2,46%, Ibu Kurang Energi Bisa Lahirkan Bayi Normal
-
Waspada Penurunan Kognitif! Kenali Neumentix, 'Nootropik Alami' yang Dukung Memori Anda
-
Lompatan Layanan Kanker, Radioterapi Presisi Terbaru Hadir di Asia Tenggara
-
Fokus Turunkan Stunting, PERSAGI Dorong Edukasi Anak Sekolah tentang Pola Makan Bergizi
-
Bukan Mistis, Ini Rahasia di Balik Kejang Epilepsi: Gangguan Listrik Otak yang Sering Terabaikan
-
Ramadan dan Tubuh yang Beradaptasi: Mengapa Keluhan Kesehatan Selalu Datang di Awal Puasa?
-
Rahasia Energi "Anti-Loyo" Anak Aktif: Lebih dari Sekadar Susu, Ini Soal Nutrisi yang Tepat!