Suara.com - Pemerintah tengah berupaya untuk menurunkan angka prevalensi perokok anak melalui berbagai upaya. Hal ini ditempuh demi tercapainya generasi penerus bangsa yang sehat dan berkualitas. Target capaian turunnya prevalensi perokok anak membutuhkan peran dan dukungan semua pihak agar dapat terealisasi, tidak terkecuali pabrikan atau pengusaha rokok.
“Industri Hasil Tembakau (IHT) secara konsisten mengkampanyekan tentang bahaya merokok pada anak usia 18 tahun ke bawah. Tetapi, hal tersebut kurang mendapat dukungan dari masyarakat," kata Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (GAPRINDO) Benny Wachjudi dalam siaran pers yang diterima Suara.com, Rabu (11/5/2022).
Sebenarnya, edukasi bahaya merokok kepada anak bahkan sudah dilakukan sejak tahun 1999. Namun, penjualan rokok kepada anak-anak masih saja terjadi.
Hal ini memperlihatkan bahwa upaya satu atau dua elemen saja tidak cukup untuk mencegah anak untuk tidak merokok. Inisiatif ini perlu mendapat dukungan Pemerintah sehingga lebih banyak pihak yang terinspirasi dan termotivasi untuk mendukung gerakan cegah perokok anak.
Menurut Benny, untuk menekan angka perokok usia dini, diperlukan intensifikasi langkah preventif dari keluarga, khususnya para orangtua.
Orangtua memiliki peran penting dalam langkah pencegahan anak untuk tidak merokok, seperti aktif menjalin komunikasi dengan anak, memberikan contoh yang baik, memperhatikan pergaulannya, serta memberikan edukasi tentang bahaya merokok.
Seperti yang diketahui, pada usia remaja anak-anak cenderung ingin mencoba segala sesuatu yang baru dikenalnya dari lingkungan pergaulannya.
Hubungan orangtua dan anak juga menjadi lebih intensif selama 2 tahun terakhir, karena pandemi yang membatasi mobilisasi dan aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat. Hubungan dan komunikasi dengan keluarga di rumah menjadi kegiatan inti keseharian orangtua dan anak.
Seiring berjalannya perkembangan usia, anak akan banyak sekali bersinggungan dengan faktor-faktor eksternal yang berisiko membuat mereka berada di dalam pergaulan kurang positif, salah mengambil keputusan, mencoba hal baru yang secara norma tidak dibenarkan, misalnya seperti membolos sekolah, berbohong, sampai mengonsumsi produk khusus konsumen dewasa, dan tentunya kecenderungan untuk mencoba rokok.
“Orangtua tidak hanya sekedar menegur sebagai tindakan awal dalam mencegah anak merokok, tetapi juga harus memiliki waktu bersama, berdiskusi, memberikan edukasi, dorongan dan motivasi untuk membangun kepercayaan diri agar anak tidak merokok,” kata Benny.
Sebelumnya Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari sepakat jika peran orangtua cukup vital untuk menurunkan angka prevalensi perokok anak.
“Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi semua orangtua. Tapi tugas ini harus dilaksanakan dengan berkomunikasi dan memberi contoh buruknya merokok secara terus menerus kepada anak,” kata Lisda.
Selain itu, Lisda berharap semua pihak juga terus bahu membahu mengurangi prevalensi perokok anak dengan meningkatkan pengawasan penjualan rokok.
GAPRINDO pun sejak tahun 2020 kembali gencar mengkampanyekan langkah preventif anak terhadap rokok. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang pernah dilakukan beberapa tahun yang lalu.
Kampanye pun tidak hanya dilakukan melalui seminar-seminar offline, memberikan edukasi kepada peritel modern maupun tradisional, tapi juga membuat kanal digital bernama cegahperokokanak.id.
Dalam laman tersebut berisi berbagai tip yang penting diketahui oleh keluarga untuk mencegah anak dari ketergantungan rokok. Mengedepankan peran orangtua dalam kampanye ini sesuai dengan norma Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menyatakan bahwa dari 70 juta anak di Indonesia, 37 persen atau 25,9 juta anak di antaranya pernah dan masih merokok. Upaya pencegahan harus dimulai sejak dini, dari lingkungan dan orang terdekat anak itu sendiri.
Melansir cegahperokokanak.id, peran orangtua dalam preventif perokok anak bisa terbagi menjadi dua hal. Yang pertama, jika anak masih dalam tahap mencoba-coba, para orangtua hendaknya melakukan upaya untuk meningkatkan kepercayaan diri si anak agar mampu menyikapi dengan tepat tekanan dan ajakan teman sebayanya.
Orangtua hendaknya memberi pemahaman pada anak mengenai hal yang benar dan bukan mengenai yang salah. Anak yang merasa terhubung dengan orangtuanya akan lebih terbuka berbicara tentang masalah yang dihadapinya.
Adapun jika anak sudah dalam tahap kecanduan, orangtua diharapkan tidak bereaksi berlebihan, tapi siapkan komunikasi yang lebih intens dan lebih fokus. Mintalah anak berbicara jujur untuk mengungkapkan apa yang membuatnya tertarik dengan rokok. Ajak anak untuk memikirkan masalah ke depan, seperti kesehatan dan keuangan. Tunjukan bahwa anak bisa membeli sesuatu barang yang lebih berarti dengan uangnya, dibandingkan membeli rokok.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
Terkini
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut