Suara.com - Kebanyakan orangtua tentu ingin anak-anaknya meraih apa pun yang terbaik. Sehingga dalam melakukan pola asuh beberapa orangtua kerap 'memaksa' anak untuk selalu melakukan sesusai dengan yang sudah dirancang hingga membuat aturan ketat.
Pola asuh yang ketat atau strict parents bisa dialami oleh setiap anak. Meski mungkin tujuannya untuk mencegah anak jadi pembangkang dan bisa meraih prestasi terbaik, tetapi strict parents juga bisa menimbulkan dampak negatif.
Orangtua dengan pola asuh strict parents biasanya mematok prestasi akademis sebagai prioritas dan menilai efektivitas pengasuhan mereka dengan kinerja anak-anak di sekolah. Gaya strict parents mungkin saja bisa membuat anak meraih prestasi akademis, tetapi itu hanya bisa terjadi pada sebagian anak.
Dikutip dari Parenting Forbrain, sejumlah studi telah mengungkapkan kalau pola asuh strict parents lebih banyak menyebabkan kerusakan pada mental anak.
Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam rumah tangga yang ketat cenderung tidak bahagia dan menunjukkan lebih banyak gejala depresi.
Di beberapa negara, seperti Hong Kong dan Australia, anak-anak yang dibesarkan di rumah tangga yang ketat lebih rentan terhadap upaya atau ide bunuh diri.
Meskipun beberapa orangtua berpikir bahwa pengasuhan yang ketat menghasilkan anak-anak yang berperilaku lebih baik, penelitian menunjukkan bahwa gaya pengasuhan seperti itu sebenarnya menghasilkan anak-anak yang memiliki lebih banyak masalah perilaku.
Anak-anak belajar apa yang mereka jalani dan apa yang dicontohkan orangtuanya. Ketika orangtua berupaya mengajarkan disiplin, tapi dengan cara menghukum, paksaan, ancaman, dan hukuman verbal serta keras, anak juga akan mencontoh hal serupa saat mereka marah.
Akibatnya, anak-anak belajar menjadi lebih memberontak, cepat marah, impulsif, dan agresif ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan mereka. Anak-anak juga lebih cenderung terlibat dalam perilaku berisiko seperti melarikan diri.
Baca Juga: 3 Alasan Mengapa Keinginan Anak Tidak Harus Selalu Dituruti
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
Terkini
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya
-
Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic
-
Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan
-
Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran