Suara.com - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melaporkan bahwa meningkatnya informasi yang salah dan gangguan rantai pasokan global akibat pandemi Covid-19 menyebabkan penurunan berkelanjutan terbesar vaksinasi anak dalam tiga dekade.
Persentase anak-anak yang menerima tiga dosis vaksin difteri, tetanus, dan pertusis (DTP) turun lima poin antara 2019 hingga 2021, menjadi 81 persen.
Menurut data resmi yang terbit pada Kamis (14/7/2022) pekan lalu oleh WHO dan UNICEF, vaksin tersebut digunakan sebagai penanda cakupan imunisasi di dalam dan lintas negara.
"Kami menyaksikan penurunan berkelanjutan terbesar dalam imunisasi anak dalam satu generasi. Konsekuensinya akan diukur dalam kehidupan," kata direktur eksekutif UNICEF Catherine Russell.
Sekitar 25 juta anak melewatkan satu atau lebih dosis DPT pada 2021, yang mana dua juta lebih banyak dibanding tahun 2020 dan enam juta lebih banyak dari tahun 2019.
Dari 25 juta, 18 juta tidak menerima dosis tunggal DTP selama tahun 2021.
Hal itu menempatkan semakin banyak anak pada risiko penyakit yang sebenarnya dapat dicegah, lapor Science Alert.
"Sebagian besar dari mereka tinggal di begara berpenghasilan rendah dan menengah," imbuh direktur departemen imunisasi, vaksin dan biologi WHO, Kate O'Brien.
Ethiopia, India, Indonesia, Nigeria, dan Filipina mencatat jumlah tertinggi anak-anak tanpa dosis.
Baca Juga: Pendarahan Menstruasi yang Banyak setelah Vaksin Covid-19 Dinilai Benar Adanya, Begini Kata Peneliti
Penurunan ini dikaitkan dengan beberapa faktor, termasuk peningkatan jumlah anak yang tinggal di zona konflik, meningkatkan informasi salah, gangguan layanan serta pasokan akibat pandemi Covid-19, dan lockdown yang membatasi kampanye imunisasi.
Para pengamat berharap 2021 akan menjadi tahun pemulihan setelah penguncian di tahun 2020. Tetapi faktanya justru sebaliknya, itu menjadi tahun terburuk untuk cakupan DPT sejak 2008.
Tidak hanya itu, masalah tambahan lainnya adalah meningkatnya tingkat kekurangan gizi akut yang parah.
"Konvergensi krisis kelaparan dengan kesenjangan imunisasi yang semakin besar mengancam terciptanya kondisi krisis kelangsungan hidup anak," tulis mereka dalam sebuah pernyataan.
Cakupan vaksin campak dosis pertama juga turun menjadi 81 persen pada 2021, level terendah sejak 2008.
PPB pun meminta negara-negara untuk mengintensifkan upaya vaksinasi catch-up mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat
-
Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak