Suara.com - Penyakit monkeypox atau cacar monyet disebabkan karena terjadi infeksi virus monkeypox. Meski begitu, pengobatan dengan antivirus tidak selalu dibutuhkan setiap orang yang terkena cacar monyet.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. Robert Sinto, Sp.PD., menjelaskan bahwa pengobatan antivirus hanya perlu diberikan kepada pasien cacar monyet dengan risiko berat.
"Kalau data penelitian di luar negeri, data yang dikumpulkan itu hanya kurang lebih dari 5 persen pasien yang terdiagnosis monkeypox akhirnya membutuhkan antivirus. Mereka adalah kelompok yang berisiko tinggi untuk menjadi berat," kata dokter Robert saat konferensi pers virtual bersama Kementerian Kesehatan, Jumat (16/9/2022).
Pasien yang berisiko tinggi menjadi berat misalnya, orang dengan imunokompromise atau gangguan sistem imun seperti pengidap HIV dan autoimun.
Selain itu, kelompok berisiko tinggi bika gejala lesi muncul pada organ yang bisa menyebabkan kecacatan.
"Misalnya terjadi di mata. Kemudian pada area perinatal yang bisa mengakibatkan nyeri anus yang berlebihan," lanjutnya.
Kemudian adanya tanda risiko perburukan sejak awal, misalnya perdarahan. Kondisi itu biasanya menunjukan gejala lesi hemoragik pada cacar monyet. Orang lanjut usia, anak-anak, dan ibu hamil juga termasuk dalam populasi rentan.
"Jadi hanya kelompok kecil saja. Sehingga tidak adanya antivirus, itu tidak menjadi satu hal yang harus untuk bisa mendapatkan kesembuhan monkeypox. Tapi dengan pilihan antivirus, mudah-mudahan secara bijak kita bisa gunakan untuk kelompok beresiko sehingga bisa mencegah fatalitas kasus," paparnya.
Kasus cacar monyet secara global saat ini telah mencapai 60.392 orang dilaporkan di 99 negara. Angka kematiannya sebanyak 22 jiwa. Kasus terkonfirmasi cacar monyet berada di Amerika bagian selatan.
Baca Juga: Warga Thailand Terjangkit Cacar Monyet Usai dari Qatar, Pemerintah Catat jadi Kasus Kedelapan
Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan tercatat ada satu kasus positif cacar monyet yang terdeteksi pada akhir Agustus lalu di DKI Jakarta. Saat ini pun pasien tersebut telah selesai menjalani isolasi mandiri dan dinyatakan sembuh.
"Pasien kasus positif monkeypox Alhamdulillah tanggal 4 September kemarin telah dinyatakan selesai isolasi dan sekarang sudah melakukan aktivitas seperti sebelumnya. Artinya pasien sudah dinyatakan sehat dan yang kontak erat ada tiga orang, sudah dilakukan testing dan surveilans semuanya sehat. Jadi tidak ada yang terkonfirmasi bergejala atau diduga suspek monkeypox," ungkap juru bicara Kemenkes M. Syarif.
Ia menambahkan bahwa Kemenkes juga telah memperbanyak laboratorium yang bisa melakukan pemeriksaan surveilens monkeypox yang semula hanya dua menjadi 15 laboratorium di beberapa daerahdi Pulau Jawa, Sumatera, Makassar juga Ambon.
Berita Terkait
-
Waspada! Wabah Mpox di Afrika Tidak Terkendali, 1.100 Orang Tewas
-
Waspada! Cacar Monyet Melonjak di Australia, Total 737 Kasus
-
Monkeypox Merebak di Afrika, Apa Vaksin Mpox Aman untuk Anak?
-
Jumlah Kasus Cacar Monyet di Filipina Naik, Menteri Kesehatan Bilang Begini
-
5 Pertanyaan Seputar Vaksin Mpox: Bisa Dapat di Mana dan Untuk Siapa?
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal