Suara.com - Hingga saat ini anemia masih menjadi masalah bagi dunia kesehatan. Kondisi kurangnya sel darah merah atau hemoglobin (Hb) ini dapat menyebabkan berbagai masalah lainnya, salah satunya angka stunting yang masih tinggi.
Berdasarkan keterangan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Dwi Adi Maryandi, SKM, MPH, tingginya angka stunting ini terjadi karena masih kurangnya intervensi untuk mengatasi kondisi ini.
“Sekitar 23 persen di Indonesia bayi lahir sudah stunting, maka harus ada upaya intervensi dari sebelum lahir maupun sejak perempuan masih di usia remaja. Namun,upaya intervensi pencegahan stunting hingga saat ini masih terdapat gap,” ucap Dwi Adi Maryandi dalam Konferensi Pers Kampanye “Jangan Cuek, Ayo Cek Gejala Kurang Darah”, Rabu (30/11/2022).
Salah satu hal yang menjadi upaya pencegahan stunting sulit yaitu masih ada remaja putri yang tidak mau mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) sehingga berisiko anemia. Dikatakan, sekitar 23, 8 persen remaja putri tidak ingin mengonsumsi TTD.
Sementara itu dari 76,2 yang mengonsumsi TTD, masih ada yang tidak minum secara rutin. Kondisi ini terjadi karena berbagai faktor di antaranya sebagai berikut.
- Belum waktunya habis (3,9 persen)
- Efek samping seperti mual atau sembelit (16,2 persen)
- Lupa mengonsumsi (20 persen)
- Bosan rutin mengonsumsi (20,1 persen)
- Mual atau muntah karena kehamilan (18,6 persen)
- Tidak suka minum obat (21,2 persen)
Oleh sebab itu, tidak 100 persen remaja perempuan benar-benar terjamin bebas dari anemia. Hal ini juga yang mendukung angka stunting masih tinggi hingga saat ini. Bahkan Adi menjelaskan sebanyak 6,3 juta dari 12,1 juta remaja putri tidak mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) dan berisiko anemia.
Selain remaja putri yang tidak mau mengonsumsi TTD, terdapat beberapa penyebab sulitnya intervensi pencegahan stunting di antaranya sebagai berikut.
- 2,8 juta dari 4,9 juta ibu hamil tidak periksa kehamilan minimal 6 kali.
- Hanya 46 ribu dari 300 ribu posyandu di Indonesia yang aktif.
Baca Juga: Ahli Gizi IPB: Stunting Juga Berefek pada Perkembangan Otak Anak, Tak Hanya Tubuh Pendek
- Sebanyak 6,5 juta dari 22 juta balita tidak dipantau pertumbuhan maupun perkembangannya.
- 1,5 juta relawan kader masih belum memiliki standardisasi kemampuan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat
-
Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak