Suara.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat. Secara kasat mata, obat tradisional yang berbahaya dan ilegal sebenarnya mudah dikenali.
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM Dr. Reri Indriani, Apt. M.Si., mengungkapkan, dari klaim yang ditawarkan oleh produk saja bisa terdeteksi apakah obat tradisional aman atau tidak.
"Biasanya dia klaimnya instan, jangan dipercaya. Terus klaimnya kata-katanya tidak sesuai norma yang berlaku, mohon maaf, misalnya memperbesar bagian tubuh tertentu dalam waktu singkat, menurunkan berat badan dalam waktu singkat, memuaskan pasangan, seperti itu," tutur Reri usai acara peluncuran suplemen kunyit dari Herbalife Nutrition di Jakarta, Kamis (15/12/2022).
Menurut Reri, klaim seperti itu biasa digunkan oleh pengedar obat ilegal maupun palsu.
"Jadi edukasi, tips-tips untuk masyarakat suapaya tidak mudah percaya terhadap produk ilegal, tanpa izin edar, atau dipalsukan, atau mengandung bahan kimia obat yang tidak boleh digunakan di obat tradisional," lanjutnya.
Untuk lebih pasti, Reri menyarankan melihat database produk public warning pada situs bpom cekbpom.pom.go.id tentang obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat. Reri menyampaikan bahwa BPOM sendiri sebenarnya telah rutin lakukan pengawasan dan pengecekan secara acak terhadap produk obat tradisional yang beredar di masyarakat.
"Kita dari tahun 2003 sudah melakukan operasi secara khusus untuk pengamanan pasar dari produk-produk yang mengandung bahan kimia obat tersebut, dan tiap tahun ada public warning-nya," ujar Reri.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jalan Putri Hijau/Yos Sudarso Medan Ditutup 31 Januari hingga 6 Februari, Arus Lalin Dialihkan
- 4 Cushion Wardah untuk Tutupi Kerutan Lansia Usia 50 Tahun ke Atas
- Reshuffle Kabinet: Sugiono Jadi Menko PMK Gantikan 'Orang Jokowi', Keponakan Prabowo Jadi Menlu?
- Ketua KPK Jawab Peluang Panggil Jokowi dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
- 5 Mobil Bekas Rp30 Jutaan yang Cocok untuk Guru Honorer: Solusi Ekonomis untuk Mobilitas Sehari-hari
Pilihan
-
Tragis! Bocah 6 Tahun Tewas Jadi Korban Perampokan di Boyolali, Ibunya dalam Kondisi Kritis
-
Pasar Modal Bergejolak, OJK Imbau Investor Rasional di Tengah Mundurnya Dirut BEI
-
5 HP Memori 128 GB di Bawah Rp2 Juta Terbaik Awal 2026: Kapasitas Lega, Harga Ramah di Kantong!
-
5 HP Murah Mirip iPhone Terbaru: Gaya Mewah Boba 3 Mulai Rp900 Ribuan!
-
Rupiah Melemah ke Rp16.786, Tertekan Sentimen Negatif Pasar Saham
Terkini
-
Dehidrasi Ringan Bisa Berakibat Serius, Kenali Tanda dan Solusinya
-
Indonesia Masih Kekurangan Ahli Gizi, Anemia hingga Obesitas Masih Jadi PR Besar
-
Cedera Tendon Achilles: Jangan Abaikan Nyeri di Belakang Tumit
-
Super Flu: Ancaman Baru yang Perlu Diwaspadai
-
3D Echocardiography: Teknologi Kunci untuk Diagnosis dan Penanganan Penyakit Jantung Bawaan
-
Diam-Diam Menggerogoti Penglihatan: Saat Penyakit Mata Datang Tanpa Gejala di Era Layar Digital
-
Virus Nipah Sudah Menyebar di Sejumlah Negara Asia, Belum Ada Obatnya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Punya Layanan Bedah Robotik Bertaraf Internasional
-
Hari Gizi Nasional: Mengingat Kembali Fondasi Kecil untuk Masa Depan Anak
-
Cara Kerja Gas Tawa (Nitrous Oxide) yang Ada Pada Whip Pink