Suara.com - Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. Fatnan Setyo Hariwibowo, Sp.PD meyakini peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) terjadi karena perubahan iklim. Kondisi ini membuat nyamuk aedes aegypti pembawa virus dengue mampu berkembangbiak dengan cepat.
Menurut dr. Fatnan, kondisi perubahan iklim ini sudah sangat terasa di Indonesia, salah satunya ditandai di berbagai wilayah masih mengalami hujan lebat padahal seharusnya periode Maret-April memasuki musim pancaroba menuju musim kemarau.
"Kalau melihat siklus kemenkes kalau dipetakan berdasarkan iklim, dulu terpetakan Oktober sampai Maret itu musim hujan. Lalu April-Maret itu pancaroba, dulu tuh bisa dipetakan, sekarang nggak jelas sama sekali," ujar dr. Fatnan dalam acara diskusi virtual Seri Webinar Ramadhan, Jumat (6/4/2024).
Keyakinan dr. Fatnan juga diperkuat setelah dirinya sempat mendengarkan acara diskusi kedokteran hewan, terkait perubahan iklim bisa mempengaruhi perkembangan hewan.
Termasuk adanya dugaan nyamuk aedes aegypti mampu bertelur di mana sana untuk beradaptasi. Mengingat selama ini nyamuk pembawa virus dengue ini kerap dikenal sebagai nyamuk 'resik', sehingga hanya mau bertelur di genangan air bersih.
"Apakah dia bisa adaptasi dengan tempat kotor, jumlah nyamuk akan berubah saat perubahan iklim dan perkembangannya bakal banyak sekali. Jadi itu sangat menarik, nyamuk melonjak drastis, salah satu paling tinggi karena perubahan iklim," papar dr. Fatnan.
Selain itu dr. Fatnan membenarkan selaiknya sifat virus yang ada di dunia, virus dengue penyebab BDB bisa bermutasi. Apalagi kata dia, virus dengue termasuk salah satu virus yang tertua di dunia, lebih tua dari panya virus SARS CoV 2 penyebab Covid-19.
Di sisi lain, dr. Fatnan juga menemukan saat ini sudah ada beragam gejala DBD yang tidak melulu diawali dengan demam, tapi bisa lebih dulu mengalami sakit perut dan diare.
"Saat ini ada gejala DBD nyeri perut, jadi masuk awalnya bukan karena demam tapi karena nyeri perut. Ada masuk ke RS karena diare, demam tidak tinggi, padahal biasanya demam karena virus bisa tinggi sekali, tapi kebanyakan demamnya setelah DBD-nya terdeteksi, dan baru akan tinggi sekali," papar dr. Fatnan.
Baca Juga: Waspada! kasus DBD Meroket Tiga Kali Lipat!
Berstutus KLB, kasus DBD melonjak di Indonesia
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu mengatakan, per Selasa 26 Maret atau pekan ke-13 di 2024, kasus dengue di Indonesia dilaporkan mencapai 53.131 orang. Sementara itu, kasus kematian akibat dengue dilaporkan ada 404 orang.
Dari sistem pemantauan penyakit, Kota Bandung tercatat dengan jumlah kasus dengue sebanyak 1.741 kasus, disusul Kota Kendari dengan 1.195 kasus, Bandung Barat 1.143 kasus, Kota Bogor 939 kasus, dan Subang 909 kasus.
Untuk sebaran kematian akibat dengue, Jepara mencatat angka 17 kematian, disusul Subang dengan 15 kematian, Kabupaten Bandung 14 kematian, Kendal 13 kematian dan Bogor 12 kematian.
Di sisi lain Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (Ditjen P2P) Kemenkes, dr. Imran Pambudi, MPHM sudah menetapkan status Indonesia KLB DBD. Ini karena lonjakan kasus DBD yang meningkat drastis dibanding sebelumnya.
"Di bulan Maret ini saja, beberapa daerah sudah menetapkan KLB, seperti Jepara, Enrekang, Kutai Barat, Lampung Timur, dan Kab Nagekeo. Oleh karena itu, pemerintah tidak pernah bosan untuk terus menekankan pentingnya 3M Plus, dan termasuk mempertimbangkan pencegahan inovatif seperti Wolbachia dan vaksin DBD," ungkap Imran.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
Terkini
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini