Akibatnya, mereka memerlukan pemeriksaan laboratorium yang lebih sering, yang justru meningkatkan biaya layanan kesehatan.
Ironisnya, dengan adanya pemotongan anggaran, akses terhadap pemeriksaan laboratorium yang memadai semakin terbatas, sehingga memperburuk kondisi pasien transplantasi ginjal yang membutuhkan pemantauan kadar takrolimus secara rutin.
"Temuan ini memperlihatkan bahwa strategi efisiensi anggaran yang mengarah pada penggantian obat non originator tanpa kontrol ketat dapat berujung pada konsekuensi medis yang serius bagi pasien transplantasi,” ujar Tony.
Krisis Ketersediaan Obat dan Fasilitas Laboratorium
Selain perubahan merek obat, pasien juga dihadapkan pada masalah ketersediaan stok obat di rumah sakit. Kekosongan obat imunosupresan seperti takrolimus dapat menyebabkan pasien mengalami jeda pengobatan, yang berisiko memicu reaksi imun terhadap ginjal yang telah ditransplantasikan.
Studi klinis menunjukkan bahwa penurunan kadar takrolimus dalam tubuh, meskipun hanya sementara, dapat memicu reaksi penolakan akut yang jika tidak ditangani segera dapat menyebabkan kegagalan transplantasi.
Jika ginjal yang ditransplantasikan gagal, pasien harus kembali menjalani cuci darah (hemodialisis), yang justru menambah beban biaya kesehatan secara keseluruhan.
Selain itu, fasilitas laboratorium yang diperlukan untuk memantau kondisi pasien transplantasi ginjal masih sangat terbatas. Pemotongan anggaran kesehatan semakin memperparah situasi ini, karena mengurangi akses pasien terhadap pemeriksaan kadar takrolimus yang krusial bagi keberhasilan terapi jangka panjang mereka.
Pentingnya Peninjauan Kembali Kebijakan Efisiensi Anggaran Kesehatan
Baca Juga: Benarkah Pasien Penyakit Ginjal Kronis Dilarang Makan Buah? Ini Penjelasan Dokter
Dalam rangka memperingati Hari Ginjal Sedunia 2025, yang jatuh pada Kamis, 13 Maret, KPCDI menyerukan peninjauan kembali kebijakan efisiensi anggaran di sektor kesehatan.
Tema Hari Ginjal Sedunia tahun ini, "Apakah Ginjal Anda Baik-Baik Saja? Deteksi Dini, Lindungi Kesehatan Ginjal", menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan ginjal dan deteksi dini penyakit ginjal.
Tony menegaskan bahwa pemotongan anggaran yang tidak terencana dengan baik dapat berdampak buruk bagi pasien transplantasi ginjal. Tanpa strategi yang komprehensif, kebijakan ini justru dapat meningkatkan beban kesehatan nasional, karena lebih banyak pasien akan mengalami komplikasi serius akibat keterbatasan akses obat dan layanan kesehatan.
KPCDI: Mengawal Hak Pasien Gagal Ginjal di Indonesia
Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) merupakan organisasi yang aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang kesehatan ginjal serta memperjuangkan hak-hak pasien gagal ginjal. Berdiri sejak 15 Maret 2015, bertepatan dengan peringatan Hari Ginjal Sedunia, KPCDI awalnya hanya merupakan forum komunikasi antarpasien cuci darah untuk berbagi pengalaman.
Seiring waktu, organisasi ini berkembang menjadi wadah advokasi yang kritis terhadap kebijakan publik di bidang kesehatan. KPCDI tidak hanya memberikan dukungan kepada pasien, tetapi juga berperan aktif dalam mempengaruhi kebijakan kesehatan, baik melalui media sosial, pernyataan di media massa, maupun pelobiannya kepada anggota parlemen.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin