Suara.com - Di tengah peningkatan penjualan produk tembakau alternatif yang dipanaskan atau heated tobacco products (HTP) secara global, muncul kekhawatiran baru dari kalangan akademisi dan pengawas industri terkait klaim manfaat kesehatan dari produk tersebut.
Sebuah laporan terbaru dari STOP, organisasi pengawas industri tembakau, mengungkap bahwa tidak ada bukti ilmiah yang kuat dan independen yang mendukung klaim bahwa HTP lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Bahkan, temuan ini menyebut HTP masih mengandung karsinogen alias zat-zat penyebab kanker!
Dalam dokumen berjudul Memahami Produk Tembakau Bebas Asap (HTP): Isu-isu Terkini dan Temuan Terbaru, STOP memaparkan hasil kajian berbagai riset akademis serta analisis pasar yang menunjukkan bahwa HTP bukanlah solusi bagi perokok yang ingin berhenti, dan bahkan bisa memperburuk masalah kesehatan masyarakat.
STOP menyoroti bahwa industri rokok gencar memasarkan HTP sebagai produk berisiko lebih rendah. Namun, banyak riset yang mereka gunakan untuk mendukung klaim tersebut dibiayai oleh industri itu sendiri, sehingga tidak dapat dianggap netral atau bebas dari konflik kepentingan.
“Sebagian besar riset yang digunakan untuk mempromosikan HTP berasal dari industri itu sendiri. Bahkan banyak yang secara langsung didanai oleh PMI,” kata Dr. Sophie Braznell, salah satu penulis laporan tersebut, dalam peluncuran hasil riset dan ditulis Sabtu (3/5/2025).
Laporan STOP juga menunjukkan bahwa emisi dari HTP tetap mengandung zat berbahaya, termasuk karsinogen, yang bahkan ditemukan dalam konsentrasi lebih tinggi dibandingkan asap rokok biasa. Di sisi lain, proses produksi dan pembuangan perangkat HTP turut menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, terutama melalui limbah elektronik beracun dan eksploitasi sumber daya tambang untuk perangkat HTP.
Selain itu, konsumsi HTP tidak terbukti efektif dalam membantu perokok berhenti. Sebaliknya, banyak pengguna HTP tetap merokok rokok konvensional atau kembali merokok setelah mencoba HTP. Data juga mengungkap bahwa penggunaan HTP justru lebih tinggi di kalangan anak muda dan bukan perokok, ketimbang pada perokok lama.
“Bukti yang ada menunjukkan bahwa HTP tidak menawarkan manfaat kesehatan nyata. Produk ini justru menjadi alat bagi industri untuk menarik konsumen baru, khususnya anak muda, dan menciptakan generasi baru yang kecanduan nikotin,” kata Jorge Alday, Direktur STOP di Vital Strategies.
STOP juga menyoroti taktik lobi industri rokok yang mendorong kebijakan longgar terhadap HTP, seperti permintaan tarif pajak yang lebih rendah, pengecualian dari regulasi kawasan tanpa rokok, serta pelonggaran larangan iklan.
Baca Juga: Tak Hanya Rokok Biasa, Nge-Vape Juga Dilarang di Pesawat: Ini Alasannya!
Diperkirakan, penjualan HTP secara global akan mencapai USD 41,6 miliar pada tahun 2025. Sementara itu, empat besar perusahaan rokok dunia, tetap menjual lebih dari 1,8 triliun batang rokok setiap tahunnya.
Dr. Braznell menambahkan bahwa konsumen HTP pada dasarnya menjadi subjek eksperimen industri rokok, dengan risiko penyakit dan kematian dini akibat konsumsi jangka panjang yang belum sepenuhnya dipahami. Ia mengingatkan bahwa klaim "bebas asap" bukan berarti bebas risiko.
STOP menyerukan agar para pembuat kebijakan tidak terjebak dalam narasi menyesatkan industri tembakau. Mereka diminta untuk mengambil tindakan tegas dengan membatasi pemasaran HTP, menerapkan regulasi ketat, dan memastikan perlindungan kesehatan masyarakat, terutama generasi muda, dari strategi manipulatif industri. Regulasi soal HTP diminta setara atau lebih ketat daripada rokok biasa, karena menyasar generasi yang lebih muda.
“Jika pemerintah termakan oleh klaim bias dan data ilmiah yang tidak bermutu, maka pada akhirnya masyarakatlah yang akan menanggung biaya dari dampak kesehatan, lingkungan, dan ekonomi di masa depan,” pungkas Alday.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini