-
Antrean operasi jantung anak di Indonesia mencapai lebih dari 4.000 pasien.
-
Indonesia hanya memiliki 100 dokter spesialis jantung anak saat ini.
-
Setiap tahun 45.000 bayi lahir dengan kondisi Penyakit Jantung Bawaan (PJB).
Suara.com - Terbatasnya jumlah dokter spesialis jantung anak di Indonesia membuat antrean operasi jantung mencapai lebih dari 4.000 orang. Padahal setiap tahunnya ada 45.000 anak lahir dengan penyakit jantung bawaan (PJB) di Indonesia.
Antrean ini terjadi di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, yang merupakan rumah sakit rujukan nasional penyakit jantung dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI, dr. Oktavia Lilysari, SpJP(K), FIHA mengatakan antrean operasi jantung yang mengular ini terjadi akibat terbatasnya jumlah dokter spesialis jantung anak hingga dokter bedah jantung di Indonesia.
"Ada yang tahu nggak berapa jumlah dokter jantung anak di Indonesia? Di Indonesia itu hanya ada 100 orang. Kami (dokter jantung anak) dari PERKI, cuma ada 50 orang," ungkap dr. Oktavia saat menggelar skrining PJB gratis bersama dengan GE HealthCare Indonesia di SD Negeri Makasar 03, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Jumlah ini di luar dari total dokter spesialis jantung di Indonesia yang baru mencapai 2.000 orang. Kurangnya dokter jantung ini juga membuat anak dengan PJB harus ke kota besar seperti di RSJPD Harapan Kita untuk mendapat pengobatan, bahkan jika harus dioperasi tak ayal harus menunggu antrean selama berbulan-bulan hingga tahunan.
Penyakit jantung bawaan adalah kelainan jantung yang diderita seseorang sejak lahir. Tingkat keparahan PJB beragam, mulai dari kelainan ringan mencakup lubang kecil pada jantung. Lalu kelainan berat seperti tidak lengkapnya struktur jantung.
"Sehingga makanya, banyak dari anak-anak di seluruh Indonesia itu dikirimnya ke mana? Ke pusat, ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Apalagi kalau kasusnya sudah kompleks," papar dr. Oktavia.
"Itu yang mau dioperasi, antreannya hanya untuk didiskusikan, ini operasinya mau apa, mau kapan operasinya, itu antreannya sudah lebih dari 4.000 orang," lanjut dr. Oktavia.
Ini karena berdasarkan hitung-hitungan di RSJPD Harapan Kita hanya bisa menangani 2.500 kasus penyakit jantung bawaan. Angka ini sangat jauh dari 45.000 anak lahir dengan PJB setiap tahunnya di Indonesia.
Baca Juga: Akun Dibekukan Usai Tolak Mutasi Kemenkes, Dokter Piprim Basarah Tak Bisa Layani Pasien BPJS Lagi
Fakta diungkap dr. Oktavia berdasarkan percakapan antara Direktur RSJPD Harapan Kita, dr. Iwan Dakota dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Saat itu dr. Iwan mengatakan gabungan RSJPD Harapan Kita dan rumah sakit di daerah, penanganan PJB maksimal 5.000 kasus per tahun.
"(Menkes bertanya) di luar-luar bisa berapa? Ya ditotal mungkin 5.000 (kasus PJB) sudah pakai bedah dan non-bedah," cerita dia.
"Beliau (Menkes) nanya, kalau kalian (RSJPD Harapan Kita) cuma bisa menjangkau 5.000 kasus, yang lahir dengan PJB 45.000 per tahun, sisanya ke mana? Jawabannya dr. Iwan, itu adalah seleksi alam. Makanya saya bilang itulah yang jadi masalah besar sebenarnya di kita," sambung dr. Oktavia.
Di saat antrean operasi yang lama itu, dr. Oktavia lantas mengungkap fakta mengiris hati lantaran banyaknya kasus yang tidak bisa ditangani karena keterbatasan jumlah dokter dan fasilitas bedah, yaitu adanya 'seleksi alam'.
Selain operasi jantung pada anak yang terlahir dengan PJB, dr. Oktavia juga mengingatkan pentingnya data utuh tentang prevalensi penyakit jantung bawaan pada anak di Indonesia. Inilah sebabnya pentingnya skrining PJB seperti yang digelar Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dan GE HealthCare (GEHC) secara cuma-cuma.
Skrining yang menargetkan siswa sekolah dasar dan santri pondok pesantren, tidak hanya untuk mendeteksi kelainan jantung sejak dini, tetapi juga sebagai langkah awal pengumpulan data skrining PJB secara nasional yang diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai gambaran PJB di Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental
-
Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026
-
Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi