- Raditya Dika menekankan bahaya penyakit dengue bagi produktivitas individu, keluarga, dan dunia kerja pada acara di Jakarta, Kamis.
- Raditya menerapkan langkah preventif rutin seperti vaksinasi DBD untuk menghindari kerugian besar saat menjalani aktivitas pekerjaannya.
- Takeda, PERDOKI, dan KADIN mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat perlindungan kesehatan karyawan dari ancaman penyakit dengue.
Suara.com - Bagi Raditya Dika, menjaga kesehatan bukan sekadar rutinitas pribadi, tetapi bagian dari strategi hidup, baik sebagai kreator, kepala keluarga, maupun pengusaha. Ia melihat risiko penyakit seperti dengue dari sudut pandang yang lebih luas.
Di mana, dengue bukan hanya soal sakit, tetapi memiliki dampak terhadap produktivitas, rencana kerja, hingga orang-orang yang bergantung padanya. Dalam sebuah diskusi panel, Radit, menegaskan bahwa dengue tidak bisa dianggap enteng.
“Dengue bukan penyakit yang bisa dianggap sepele. Dampaknya bisa serius, bahkan mengancam jiwa, dan bisa terjadi pada siapa saja, tidak pandang bulu. Dalam kehidupan sehari-hari, apalagi di industri kreatif, ketika satu orang sakit, efeknya bisa ke banyak hal,” dalam acara bertajuk “SIAP Lawan Dengue” di Jakarta, Kamis.
Kesadaran itu membuat Raditya terbiasa melakukan persiapan sejak awal. Ia dikenal sebagai sosok yang lebih memilih “repot di depan” untuk menghindari kerugian besar di kemudian hari. Salah satu bentuk nyatanya adalah dengan rutin melakukan vaksinasi sebelum menjalani aktivitas penting, seperti tur stand-up comedy.
“Setiap mau tour stand up comedy, biasanya saya vaksin, termasuk vaksin DBD. Karena kalau tiba-tiba kena DBD saat tour, kerugiannya besar,” ujarnya.
Langkah preventif ini juga ia terapkan dalam kehidupan keluarga. Ia memastikan istri dan anak-anaknya mendapatkan perlindungan yang sama. Baginya, keputusan tersebut bukan sekadar pilihan, melainkan bentuk tanggung jawab agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan tanpa gangguan besar.
Ia pun secara terbuka menunjukkan bahwa dirinya tidak ragu terhadap vaksin. “Kalau saya sih ngikutin yang dianjurkan dokter. Saya tipe yang siap vaksin. Lebih baik ribet di awal daripada ribet di belakang.”
Pengalaman dan pengamatannya terhadap dampak penyakit seperti DBD semakin memperkuat keyakinan tersebut. Ia memahami bahwa satu kasus penyakit bisa memicu efek berantai, mulai dari absen kerja beberapa hari, penurunan produktivitas, hingga beban finansial yang tidak kecil.
Bahkan, dalam banyak kasus, keluarga juga ikut terdampak karena harus mendampingi pasien selama masa perawatan. Dari situ, cara pandang Raditya berkembang. Jika sebelumnya fokusnya ada pada diri sendiri dan keluarga, kini ia mulai memikirkan dampaknya dalam konteks bisnis dan karyawan.
Baca Juga: Dari Anak Tanpa Vaksin ke Lonjakan Pasien Cuci Darah: Rantai Krisis Kesehatan yang Terabaikan?
Ia mengakui bahwa langkah di tempat kerja saat ini masih sebatas upaya dasar seperti menjaga kebersihan lingkungan dan menjalankan 3M. Namun, diskusi yang ia ikuti memunculkan kesadaran baru bahwa perlindungan karyawan juga perlu diperkuat secara lebih sistematis.
Perubahan perspektif ini sejalan dengan dorongan berbagai pihak melalui inisiatif kolaboratif seperti SIAP Lawan Dengue. Takeda Innovative Medicines menilai bahwa tempat kerja memiliki peran strategis dalam pencegahan.
“Dengue dapat menyerang siapa saja, dan dampaknya tidak hanya pada individu, tetapi juga keluarga dan lingkungan kerja. Karena itu, kesiapsiagaan harus diwujudkan melalui langkah nyata yang konsisten,” ujar Andreas Gutknecht, Presiden Direktur Takeda Innovative Medicines.
Dari sisi medis, pendekatan preventif juga semakin ditekankan. Perwakilan PERDOKI mengingatkan bahwa ketika seorang pekerja terinfeksi dengue, dampaknya bisa meluas ke berbagai aspek kehidupan—mulai dari pemulihan yang tidak singkat hingga terganggunya peran dalam keluarga dan pekerjaan.
Karena itu, perlindungan melalui edukasi, pengendalian lingkungan, hingga imunisasi menjadi langkah penting untuk menjaga produktivitas.
Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) menekankan bahwa dunia usaha memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan berkelanjutan. Kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan tenaga medis dinilai menjadi kunci agar upaya pencegahan bisa berjalan efektif.
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak
-
Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik
-
Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks
-
Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin
-
Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala
-
Jangan Lewat 4,5 Jam! Dokter Ungkap Golden Period Penanganan Stroke yang Bisa Selamatkan Otak
-
Bukan Sekadar Datang Bulan, Ini Fakta Penting Menstruasi Remaja yang Sering Disalahpahami
-
Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter
-
Bukan Sekadar Main Kartu, Domino Kini Diakui sebagai Olahraga Pikiran
-
DBD Menular atau Tidak Lewat Sentuhan? Simak Fakta-faktanya