- Wamenkes Dante menyatakan kelompok anti vaksin masih ada secara global namun tidak menghambat program imunisasi pemerintah Indonesia.
- Pemerintah menekankan pentingnya peran jurnalis dalam menyajikan data akurat menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami masyarakat luas.
- UNDP menilai penolakan vaksin dipicu kekhawatiran orang tua, faktor budaya, serta kebutuhan edukasi kolaboratif dari berbagai pihak terkait.
Suara.com - Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menilai keberadaan kelompok anti vaksin masih menjadi tantangan nyata dalam program imunisasi. Walau begitu, menurutnya, kelompok tersebut tidak mengganggu pemerintah dalam menjalankan program vaksinasi kepada masyarakat.
Fenomena ini, kata Dante, bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara. Alih-alih pendekatan represif, pemerintah justru menekankan pentingnya peran informasi yang akurat dan mudah dipahami untuk merespons narasi anti vaksin.
“Sebenernya kalau teman-teman media ini turut berperan aktif, nggak ganggu sih. Tinggal bikin tulisan-tulisan yang banyak, yang nggak bener itu, dijawab dengan satu tulisan jurnalistik yang berbasis pada data yang akurat, pasti akan ternetralisir,” ujar Dante usai temu jurnalis dalam Pekan Imunisasi Nasional di Kantor Kemenkes, Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, kelompok anti vaksin tidak perlu diposisikan sebagai musuh. Namun, ruang publik harus diisi dengan informasi yang lebih kredibel agar persepsi masyarakat tidak dibentuk oleh narasi yang menyesatkan.
Oleh sebab itu, Dante meminta kepada jurnalis agar tidak terjebak pada bahasa jurnalistik yang rumit dan sulit dipahami masyarakat umum ketika membuat tulisan soal vaksin.
“Tolong ditulis dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat, bukan bahasa jurnalistik yang susah. Semakin disajikan dalam bentuk yang paling sederhana, tapi bisa mengena hatinya masyarakat, itu akan lebih bermanfaat daripada informasi yang salah,” ujarnya.
Ia menegaskan, eksistensi kelompok anti vaksin tidak bisa dihapus sepenuhnya. Bahkan, secara global fenomena ini masih terus muncul dengan berbagai latar belakang.
“Anti-vax itu tetap ada, bukan saja di Indonesia, tapi di beberapa negara-negara lain,” kata Dante.
Dalam kesempatan yang sama, Deputy Resident Representative United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia, Sujala Pant, menilai penolakan terhadap vaksin sering kali berakar dari kekhawatiran orang tua terhadap efek yang mungkin ditimbulkan pasca vaksin.
Baca Juga: Dari Anak Tanpa Vaksin ke Lonjakan Pasien Cuci Darah: Rantai Krisis Kesehatan yang Terabaikan?
“Mungkin mereka takut bahwa itu akan mempunyai efek berat. Dan menurut saya, sebagai orang tua yang bertanggung jawab untuk melindungi anak-anak mereka, Anda ingin yakin bahwa apa yang diberikan akan melindungi mereka,” ujar Sujala.
Ia menambahkan, faktor lain seperti budaya, kondisi sosial, hingga keterbatasan akses dan pemahaman informasi juga berkontribusi terhadap munculnya sikap anti vaksin.
“Mungkin kultural, sosial, tidak memiliki informasi yang cukup, atau tidak bisa memahami informasi secara sederhana,” katanya.
Sujala menekankan bahwa tanggung jawab untuk meredam misinformasi tidak hanya berada di pemerintah, tetapi juga pada figur publik, tenaga kesehatan, dan media.
“Menurut saya, tugas kita, sebagai publik figur, sebagai profesional, sebagai pakar kesehatan, sebagai dokter adalah untuk bekerja, untuk meminimalkan informasi-informasi yang salah,” katanya.
Berita Terkait
-
Dari Anak Tanpa Vaksin ke Lonjakan Pasien Cuci Darah: Rantai Krisis Kesehatan yang Terabaikan?
-
Pemerintah Pastikan Tak Ada Penolakan Industri Terkait Kebijakan Label Nutri Level AD
-
Cerita Wamenkes Dante Hadapi Pasien yang Sebut Vaksin Hanya Akal-akalan Pemerintah
-
Menkes Sebut Isu Halal-Haram dan Dampak Pandemi Jadi Pemicu Tingginya Kasus Campak
-
Tak Hanya Anak, Vaksin Campak Kini Bisa Digunakan Orang Dewasa
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
Terkini
-
Pacu Pertumbuhan Ekonomi, Mendagri Dorong Optimalisasi APBD dan Kendalikan Inflasi
-
Dari Anak Tanpa Vaksin ke Lonjakan Pasien Cuci Darah: Rantai Krisis Kesehatan yang Terabaikan?
-
FBI dan Polri Bongkar Jaringan Phishing Global W3LL, Incar Transaksi Rp350 Miliar
-
91 Persen Koruptor Laki-laki, Benarkah Perempuan Lebih Antikorupsi?
-
Detik-detik Pasukan Iran Sita Dua Kapal Kargo di Selat Hormuz, Gedung Putih Sebut Perompak
-
Gundah Gulana Ibu Hamil di Perang Lebanon: Apakah Bayi Saya Aman
-
Iran Menang Banyak! Tol Selat Hormuz Resmi Hasilkan Cuan di Tengah Kepungan AS-Israel
-
Misteri Kematian WNA di Imigrasi Depok, Ditemukan Tewas di Toilet: Ini 7 Faktanya
-
Kerja 36 Jam hingga Tidur di Lorong, Kasatpol PP DKI: 35 Anggota Saya Meninggal Dalam Setahun!
-
Dukung Usulan Ketum Parpol Dibatasi 2 Periode, Burhanuddin: Terobosan Buat Reformasi Kepartaian Kita