Health / Konsultasi
Jum'at, 08 Mei 2026 | 08:01 WIB
Ilustrasi nyamuk demam berdarah dengue (DBD) (Pexels/Pixabay)
Baca 10 detik
  • Kasus DBD di Indonesia meningkat tajam dengan siklus lonjakan yang semakin cepat serta membebani ekonomi nasional secara signifikan.
  • PT Takeda Innovative Medicines dan Halodoc menjalin kemitraan strategis pada Pekan Imunisasi Dunia 2026 untuk memperkuat edukasi pencegahan DBD.
  • Pencegahan DBD yang komprehensif, mulai dari pengendalian lingkungan hingga vaksinasi, sangat penting bagi seluruh kelompok usia masyarakat Indonesia.

Suara.com - Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di Indonesia. Penyakit akibat infeksi virus dengue ini kini tidak lagi muncul hanya pada musim tertentu, melainkan dapat terjadi sepanjang tahun. 

Perubahan pola cuaca, suhu udara yang semakin tinggi, hingga tingginya mobilitas masyarakat membuat penyebaran dengue semakin sulit diprediksi. 

Dalam situasi tersebut, momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026 menjadi pengingat penting bahwa pencegahan merupakan langkah utama dalam melindungi masyarakat dari penyakit menular, termasuk DBD.

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan rata-rata kasus DBD dalam lima tahun terakhir meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya. 

Bahkan, siklus lonjakan kasus yang dahulu terjadi sekitar 10 tahunan kini menjadi lebih cepat, yakni sekitar tiga tahun atau kurang. DBD juga tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi turut memengaruhi produktivitas keluarga hingga ekonomi nasional. 

Data BPJS Kesehatan mencatat lebih dari satu juta kasus rawat inap terkait DBD pada 2024 dengan total pembiayaan mencapai sekitar Rp3 triliun.

Di tengah meningkatnya kasus tersebut, PT Takeda Innovative Medicines bersama Halodoc mengumumkan kemitraan strategis dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026 untuk memperkuat edukasi dan akses layanan kesehatan terkait pencegahan DBD. 

Kolaborasi ini mencakup edukasi bagi tenaga kesehatan, kampanye publik digital, hingga akses konsultasi dokter mengenai langkah pencegahan dengue, termasuk vaksinasi.

Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, menekankan bahwa dengue tidak hanya menjadi ancaman bagi anak-anak, tetapi juga kelompok usia dewasa, terutama usia produktif. 

Baca Juga: Gerakan 'United Against Dengue' Diluncurkan Demi Tekan Angka Kematian DBD di Indonesia

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menganggap DBD lebih sering menyerang anak-anak, padahal risiko pada orang dewasa tetap tinggi dan dapat berdampak luas terhadap aktivitas sehari-hari maupun produktivitas keluarga.

“Tidak sedikit pasien dewasa yang harus menjalani rawat inap akibat dengue, yang pada akhirnya mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hingga produktivitas keluarga," kata dia.

Selain itu, lanjut dr. Sukamto, pada kelompok usia dewasa, khususnya yang memiliki kondisi penyerta atau komorbiditas seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan kesehatan lainnya, risiko terjadinya komplikasi akibat dengue dapat menjadi lebih tinggi.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut dapat memperberat perjalanan penyakit dan meningkatkan kebutuhan perawatan medis yang lebih intensif. Karena itu, pencegahan sejak awal dinilai sangat penting untuk mengurangi risiko kondisi yang lebih serius.

Untuk itu, penting bagi masyarakat untuk menjadikan pencegahan sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari menjaga lingkungan hingga mempertimbangkan langkah perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif. 

"Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia ini, kami mengajak masyarakat untuk lebih proaktif dalam melindungi diri dan keluarga, termasuk dengan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai opsi pencegahan yang tersedia, seperti imunisasi, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing,” lanjutnya.

Load More