- Kasus DBD di Indonesia meningkat tajam dengan siklus lonjakan yang semakin cepat serta membebani ekonomi nasional secara signifikan.
- PT Takeda Innovative Medicines dan Halodoc menjalin kemitraan strategis pada Pekan Imunisasi Dunia 2026 untuk memperkuat edukasi pencegahan DBD.
- Pencegahan DBD yang komprehensif, mulai dari pengendalian lingkungan hingga vaksinasi, sangat penting bagi seluruh kelompok usia masyarakat Indonesia.
Hal senada disampaikan Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, yang menilai DBD memiliki karakteristik unik karena perjalanan penyakitnya sering kali sulit diprediksi.
“Seorang anak dengan gejala awal DBD yang umum, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga mual atau muntah, kadang dapat terjadi perburukan yang cepat yaitu terjadi perdarahan hebat dan syok. Selain itu dapat terjadi komplikasi lain seperti kejang dan penurunan kesadaran,” ujarnya.
Menurutnya, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang memerlukan perhatian khusus. Sekitar 75 persen kasus DBD terjadi pada kelompok usia 5–44 tahun, sementara proporsi kematian terbesar terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun.
Faktor daya tahan tubuh yang masih berkembang dan keterlambatan mengenali gejala turut memengaruhi tingginya risiko tersebut. Karena itu, Prof. Hartono menegaskan pentingnya langkah pencegahan yang dilakukan secara menyeluruh.
Mulai dari pengendalian lingkungan melalui 3M Plus hingga perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan komprehensif.
Ia juga menjelaskan bahwa tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam membantu masyarakat memahami berbagai opsi pencegahan, termasuk imunisasi dengue yang kini direkomendasikan bagi anak usia 4 hingga 18 tahun sesuai persetujuan terbaru BPOM.
“Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia ini, kami mengajak masyarakat untuk semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan dan perlindungan diri. Dengan langkah sederhana namun konsisten, kita dapat melindungi diri sendiri sekaligus orang-orang terdekat dari bahaya infeksi DBD,” katanya.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, mengatakan bahwa dengue dapat berkembang menjadi kondisi serius hingga mengancam jiwa.
Hingga kini, belum ada obat spesifik untuk menyembuhkan dengue sehingga penanganannya masih berfokus pada pengelolaan gejala.
Baca Juga: Gerakan 'United Against Dengue' Diluncurkan Demi Tekan Angka Kematian DBD di Indonesia
“Karena itu, pencegahan menjadi sangat penting. Sebagai mitra dari Kementerian Kesehatan RI, Takeda berkomitmen untuk terus mendukung upaya menuju ‘Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030’, di antaranya melalui peningkatan pemahaman masyarakat dan kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.
Ia menilai kemitraan dengan Halodoc menjadi langkah konkret untuk memperluas jangkauan edukasi masyarakat mengenai pencegahan dengue.
Sementara itu, CEO dan Co-founder Halodoc, Jonathan Sudharta, mengatakan pihaknya berkomitmen mempermudah akses layanan kesehatan terpercaya, termasuk edukasi dan langkah preventif terkait DBD.
“Mengingat besarnya beban penyakit ini, kemitraan kami dengan Takeda hadir untuk memperkuat edukasi medis yang akurat sekaligus memperluas proteksi bagi masyarakat. Upaya ini membuahkan hasil nyata, di mana akses layanan vaksinasi DBD di Halodoc melonjak hampir dua kali lipat pada kuartal I 2026 dibandingkan kuartal IV 2025,” katanya.
Perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu membuat risiko penyebaran DBD semakin tinggi. Karena itu, pencegahan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui pendekatan terintegrasi mulai dari pengendalian lingkungan, peningkatan kesadaran masyarakat, hingga pemanfaatan inovasi kesehatan.
Momentum Pekan Imunisasi Dunia pun menjadi pengingat bahwa perlindungan kesehatan perlu dimulai sebelum penyakit datang, agar masyarakat dapat terlindungi secara lebih optimal dari ancaman DBD.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien