Krisis Iklim Ancam Kesehatan Dunia, WHO Didesak Tetapkan Status Darurat

Selasa, 03 November 2026 | 19:01 WIB
Sejumlah peserta membawa poster saat aksi krisis iklim di depan Kantor KPU, Jakarta, Jumat (3/11/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Perubahan iklim kini tidak lagi hanya mengancam kelestarian lingkungan. Dampaknya turut dirasakan dari segi kesehatan dan keselamatan manusia.

Gelombang panas, banjir, kebakaran hutan, hingga kekeringan menjadi ancaman serius bagi masyarakat dunia. Kondisi tersebut bahkan diperparah oleh fenomena El Nino yang meningkatkan risiko paparan dari cuaca ekstrem.

Melihat situati tersebut, sejumlah peneliti dan praktisi kesehatan masyarakat mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menetapkan dampak kesehatan akibat krisis iklim sebagai darurat kesehatan masyarakat internasional.

Berdasarkan sumber yang dikutip oleh Phys, Nicholas Brink bersama rekan-rekannya menyampaikan urgensi langkah-langkah tersebut. 

Mereka menilai dampak kesehatan akibat perubahan iklim membutuhkan respons internasional yang lebih terkoordinasi. Bahkan mereka turut menyoroti lambahnya perkembangan kebijakan global dalam mengantisipasi ancaman perubahan iklim.

Menurut mereka, dunia belum memiliki sistem kesehatan global yang cukup siap dalam menghadapi dampak krisis iklim. 

Cuasa Ekstrem Tingkatkan Risiko Kesehatan

Dampak perubahan iklim semakin terlihat melalui berbagai peristiwa ekstrem di sejumlah negara. 

Nicholas bersama timnya mengamati gelombang panas dan cuaca ekstrem yang melanda Belahan Bumi Utara. Di sisi lain, Belahan Bumi Selatan menghadapi ancaman panas ekstrem, banjir, kebakaran hutan, dan kekeringna.

Sejumlah peristiwa bahkan mengakibatkan masyarakat terpaksa kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan.

Banjir dan siklon di di Nepal membuat sejumlah warga mau tidak mau harus mengungsikan diri. Kebakaran hutan di Spanyol juga menyebabkan lebih dari 250.000 orang kehilangan seluruh harta benda mereka. 

Tak hanya itu, berbagai kota Eropa, lebih dari 50.000 orang dilaporkan meninggal akibat panas ekstrem selama musim panas sebelumnya. Lalu lebih dari 65 persen kematian itu secara langsung dikaitkan dengan perubahan iklim.

Kondisi inilah yang memperlihatkan bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman di masa mendatang. Dampaknya bahkan sudah dirasakan masyarakat, terutama kelompok yang memiliki keterbatasan sumber daya untuk beradaptasi.

Kelompok Rentan Jadi yang Paling Merasakan Dampaknya

Dampak perubahan iklim tidak dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat. Lansia, ibu hamil, anak-anak, hingga penderita penyakit kronis masuk ke dalam kelompok paling rentan.

DIsebutkan bahwa dampak panas ekstrem terhadap ibu hamil dan anak-anak di Afrika menemukan berbagai risiko kesehatan.

Paparan panas bisa memengarui kesehatan ibu selama kehamilan. Kondisi tersbebut sangat erat kaitannya dengan hasil kelahiran yang buruk dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan jangka panjang bagi anak.

Selain itu, perubahan iklim dapat memperburuk permasalahan kesehatan masyarakat lainnya. Mulai dari kegagalan panen hingga peluang kekurangan gizi pada anak.

Perubahan kondisi lingkungan inilah yang turut memperparah risiko penyebaran penyakit menular. Salah satunya adalah malaria yang dapat mengancam keselamatan masyarakat di wilayah terdampak.

Adapun ketimpangan dampak perubahan iklim yang dirasakan terhadap negara-negara Global South. Wilayah yang menghadapi dampak perubahan iklim lebih besar. Padahal, kontribusinya terhadap perubahan iklim cenderung kecil dibandingkan wilayah lainnya.

WHO Didesak untuk Ambil Langkah Internasional

Tim penulis menilai WHO punya prosedur untuk menangani ancaman kesehatan yang membutuhkan kerja sama lintas negara. Mekanisme tersebut tercatat dalam International Health Regulations (IHR).

Aturan ini mengatur prowses penanganan potensi darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.

Melalui prosedur tersebut. WHO bisa dengan mudah mengkoordinasikan respons terhadap ancaman kesehatan lintas negara.

Untuk itu, mereka mengusulkan agar dampak kesehatan akiba krisis iklim ditetap sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

Dengan penetapan status tersebut diharapkan dapat memperkuat keinginan politik berbagai negara. Langkah ini turut berpotensi mendorong mobilisasi pendanaan dan rekomendasi berbasis bukti.

Kegentingan penetapan status tersebut semakin besar di tengah ancaman El Nino. Sekitar 451.000 kematian dilaporkan akibat paparan panas selama Juni 2026 hingga Februari 2027.

Angka tersebut diperkirakan setara dengan laporan jumlah kematian akibat COVID-19 selama enam bulan pertama pandemi terjadi. 

Desakan penetapan darurat kesehatan internasional turut mendapat dukungan dari sejumlah kementerian kesehatan di Afrika. Negara yang disebutkan meliputi Senegal, Namibia, dan Zimbabwe.

Dengan penetapan status darurat ini diharapkan dapat mendorong kerja sama internasional. Langkah tersebut juga membuka peluang penguatan pendanaan, pemantauan dampak, dan perlindungan masyarakat paling rentan.

Mereka mendesak negara-negara untuk segera mengaktifkan mekanisme IHR. Dengan begitu, komite ahli dapat menilai risiko dan memberikan rekomendasi penanganan. Sebab, perlindungan kesehatan masyarakat perlu menjadi bagian peniting dalam respons global terhadap krisis iklim.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com