/
Senin, 28 November 2022 | 11:34 WIB
Erick Thohir menyandang marga Sidabatur. (Instagram/erickthohir)

Indotnesia - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir resmi menyandang marga Sidabutar dalam upacara adat Batak di Lopo Hotel, Tomok, Samosir, Sumatera Utara, pada Sabtu (26/11/2022).

Pemberian marga tersebut termasuk dalam rangkaian kegiatan acara Tao Toba Heritage Fest yang dihadiri langsung oleh tokoh-tokoh adat Batak dan masyarakat.

Lewat akun Instagram pribadinya @erickthohir, menteri berusia 52 tahun itu mengungkap rasa terima kasih dan bangga karena bisa menjadi bagian dari Bangso Batak.

“Saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari Bangso Batak. Bangsa yang terkenal kaya akan budaya, memiliki banyak tradisi bersejarah, semangat kekeluargaan, dan pekerja keras,” tulisnya sebagai keterangan foto prosesi penyematan marga yang diunggahnya.

Dengan menyandang marga Sidabutar, ayah 4 anak ini secara resmi menjadi generasi ke-10 Sidabutar dari generasi ke-10 Raja Opung Buttu Sidabutar dan anak keempat dari Hari Boss Sidabutar.

“Hormat saya setinggi-tingginya untuk Amang Hari Boss Sidabutar yang telah menjadikan saya sebagai Keluarga. HORAS!” tutupnya dalam kolom keterangan.

Penasaran dengan apa itu marga Sidabutar? Simak penjelasannya di bawah ini.

Mengenal Marga Sidabutar

Asal usul silsilah marga Sidabutar berawal dari keluarga Tuan Sorbadijulu yang memiliki 2 orang putra, yaitu Raja Nabolon dan Raja Sitempang.

Baca Juga: Jadi Pemain Termahal Timnas Spanyol, Siapa Sosok Pedri?

Kemudian, Raja Nabolon mempunyai 5 putra, yakni Simbolon Tua, Tamba Tua, Saragi Tua, Muanthe Tua, dan Nahampun Tua serta satu boru Pinta Haomasan.

Anak kedua Raja Nabolon, yaitu Raja Tamba Tua boru Malau Pase memiliki keturunan yang dijuluki Raja Si Opat Ama.

Raja Si Opat Ama memiliki leluhur terkenal bernama Datu Parngongo yang pada zamannya populer disebut sebagai seorang datu sakti.

Datu Parngongo tersebut memiliki 7 orang putra, salah satunya Guru Sojoloan atau lebih dikenal dengan nama Guru Sitindion boru Lumban Gaol.

Perwakinan Guru Sitindion dengan Boru Luman Gaol dikaruniai empat putra yang dikenal dengan nama Toga Sidabutar, Toga Sijabat, Toga Sidari, dan Toga Sidabalok.

Silsilah keluarga semakin berkembang, ketika Toga Sidabutar sebagai putra pertama menikah dengan boru Pandiangan dan dikaruniai satu orang anak yang lahir diberi nama Raja Sidabutar.

Sayangnya, Toga Sidabutar meninggal saat istrinya sedang hamil sang anak. 

Berdasarkan tradisi manghabia, istri yang ditinggal meninggal dunia oleh suami dan memiliki adik laki-laki belum menikah, maka istri tersebut akan dikawinkan dengan adik laki-laki suaminya.

Dalam cerita keluarga Toga Sidabutar juga demikian, sang istri dinikahkan dengan adiknya sebagai putra kedua Guru Sitindion.

Saat hamil anak ke-2, boru Pandiangan juga harus kembali kehilangan suaminya. Anak tersebut kemudian diberi nama Raja Sijabat.

Nasib yang sama juga dengan kedua abangnya juga dialami oleh Toga Siadari yang meninggal saat istri abangnya tengah hamil anak ke-3 dan diberi nama Raja Siadari.

Putra bungsu Guru Sitindion, Toga Sidabalok lantas mengawini boru Pandiangan sekaligus mengasuh anak abang-abangnya yang telah meninggal dunia.

Pernikahan Toga Sidabalok dan boru Pandiangan juga dikaruniai satu putra yang diberi nama Raja Sidabalok.

Anak-anak dari boru Pandiangan yang terdiri dari Raja Sidabutar, Raja Sijabat, Raja Sidari, dan Raja Sidabalok kemudian dijuluki dengan Raja Si Opat Ama, yaitu empat ama (bapak) satu ina (ibu) yang masing-masingnya merupakan putra dari empat laki-laki bersaudara tetapi satu rahim ibu.

Load More