/
Minggu, 18 Juni 2023 | 19:22 WIB
Pertemuan Ketum DPP PDIP Puan Maharani dan Ketum Demokrat AHY di Senayan. (Suara.com/M Yasir)

Peneliti politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan bahwa hubungan antara PDI Perjuangan dan Partai Demokrat belum belum akan membaik setelah pertemuan Puan Maharani dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Ketua DPP PDIP dan Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat bertemu pada Minggu (18/6/2023). Ini berlangsung setelah ditunggu-tunggu banyak pihak.

Peneliti Pusat Riest Politik BRIN Firman Noor mengatakan bahwa AHY belum tentu menjadi calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampingi calon presiden (capres) Ganjar Pranowo.

"Untuk PDIP ya ini masih dalam rangka penjajakan nama-nama tokoh yang menarik," kata Firman dalam keterangannya dikutip Liberte Suara, Minggu (18/6/2023).

Dikatakan Firman, AHY berpotensi hanya menjadi pelengkap bagi PDIP. Hal ini mengingat latar belakang sejarah dan perjalanan kedua partai.

"Dan saya kira AHY hanya sekadar pelengkap lah kalau PDIP. Karena dari banyak aspek-aspek historis, chemistry, program-program, spirit akar rumputnya itu susah," imbuhnya.

Peneliti politik BRIN memberi label 'benci tapi rindu' pada hubungan PDIP-Demokrat. Perbedaan dari lapisan terbawah hingga teratas menjadi alasannya.

"Artinya dari sisi elite dan akar rumput saya kira sudah ada pengalaman yang demikian panjang yang menyebabkan PDIP dan Demokrat itu benci tapi rindu," jelas Firman.

Firman menyimpulkan bahwa untuk menyatukan dua partai besar tersebut tidaklah mudah.

Baca Juga: 4 Cara Sehat Konsumsi Snack Kemasan, Baca Kandungan Gizinya!

"Intinya tidak muah untuk kemudian (PDIP-Demokrat) digabungkan," pungkasnya.

Load More