“Saya percaya, media populer bisa lebih mudah menjangkau anak muda. Seberapa efektif persisnya, saya kurang tahu. Tapi, bercermin dari pengalaman saya pribadi, saya sangat terpengaruh oleh apa yang saya dengar (musik) dan saya tonton (film). Saya yakin, ada orang-orang di luar sana yang sama seperti saya,” kata Robi.
Robi bercerita, ia menjadi petani kopi karena kebetulan lahir di keluarga petani dan punya lahan. Ia meneruskan dan melestarikan budaya ini karena menurutnya hal-hal ini merupakan suatu ‘kemewahan’. Ia tidak fokus berusaha membujuk publik untuk ikut menjadi petani.
“Saya lebih tertarik untuk memberi contoh kepada orang-orang sekitar. Be simple, be sample. Kenapa organik? Karena, selaras alam. Selaras alam adalah meniru cara alam bekerja secara alami. Hasilnya bukan cuma bagus untuk saya pribadi dan keluarga, tapi untuk semua, termasuk ekosistem dan masa depan. Saya percaya, jika ada orang lain yang ikut melihat ini sebagai suatu ‘kemewahan’ dan sesuatu yang ‘keren’, niscaya mereka akan berusaha sendiri untuk mewujudkannya,” kata Robi, yang sempat berprofesi sebagai pengajar pertanian organik di beberapa sekolah.
Kynan Tegar (Filmmaker, Fotografer)
Pemuda adat sekaligus siswa homeschooling berusia 16 tahun ini tak menyangka bisa mendapat kesempatan langka untuk bicara di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim Pemuda PBB pada September 2019. Di depan ratusan orang muda yang punya kepedulian tentang masyarakat adat, Kynan berbagi kisah tentang budaya dan kearifan lokal masyarakat adat Dayak Iban yang tinggal di Sungai Utik, Kalimantan Barat. Film dokumenter pertamanya yang berjudul Maali Umai juga diputar pada acara Bali International Indigenous Festival 2019.
Melalui bidikan kamera dan film dokumenter yang dibuatnya, Kynan memperlihatkan tradisi dan ritual yang diwariskan oleh leluhurnya dalam menjaga alam.
“Tanah ini adalah ibu kami, hutan ini adalah bapak kami, sungai ini adalah darah kami. Kalau ada orang mencemari sungai, artinya ia juga mencemari darah kami. Saya sangat mengagumi berbagai nilai kehidupan luhur yang terus dipertahankan oleh masyarakat adat kami. Kami berburu rusa dan babi hutan sebagai bahan makanan, kami mengambil kayu dari hutan, dan mendapatkan air bersih dari sungai. Tapi, kami ambil secukupnya saja, tidak berlebihan, agar ekosistem tetap terjaga. Inilah salah satu value yang kami pegang teguh dalam memelihara alam yang menjadi sumber kehidupan kami,” kata Kynan, yang ingin mengubah mindset orang yang menganggap bahwa masyarakat adat adalah komunitas yang terbelakang.
Kynan yang sangat fasih berbahasa Inggris ingin terus berbagi kepada dunia tentang masyarakat adat melalui film dokumenter. Menurutnya, semakin ke sini, menjaga kampungnya dari penebangan hutan dan pembukaan lahan untuk kelapa sawit semakin sulit, karena dibukanya kesempatan bagi investor untuk masuk ke Indonesia.
Alfira ‘Abex’ Naftaly (Eco Traveler dan Travel Blogger)
Kecintaan Abex terhadap lingkungan ditunjukkannya dengan menjelajah alam dan mendaki gunung. Tak hanya mendaki gunung-gunung tertinggi di Indonesia, ia juga bertualang ke negeri lain, termasuk trekking di Himalaya. Kala menjalani berbagai petualangan tersebut ia melihat dampak besar aktivitas traveling terhadap lingkungan, termasuk masalah sampah. Karena itu, Abex mencoba menggugah dan memberi pemahaman tentang pentingnya menjaga bumi selagi traveling, salah satunya dengan menyematkan pesan cinta lingkungan pada tulisan di blog-nya.
“Mencintai lingkungan sering kali identik dengan ribet. Padahal, tidak. Kita hanya perlu mengubah mindset, melakukan suatu hal baru untuk menjadi kebiasaan baru. Kalau kita melihatnya sebagai sesuatu yang sulit, jadinya akan sulit. Tapi, kalau kita bergerak, kita akan terus mencoba mencari solusi saat terbentur masalah. Jika ingin membuat perubahan besar, mulailah dari satu langkah perubahan kecil. Tidak perlu menjadi eco traveler untuk menjaga lingkungan. Pikirkan dampaknya bagi kehidupan anak-cucu kita,” kata Abex, yang saat Youth Virtual Conference mendapatkan gagasan dari peserta untuk mengubah kaos tak terpakai menjadi lap atau saputangan sebagai pengganti tisu.
Baca Juga: Bertemu Dubes Denmark, Moeldoko: Komitmen Presiden Sangat Kuat pada Isu Perubahan Iklim
Abex menilai, kita tidak bisa mengubah orang lain untuk bertindak sesuai dengan harapan kita, misalnya tidak membuang sampah sembarangan. Tapi, kita bisa memengaruhi orang lain dengan aksi yang kita lakukan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Aksi Penembakan Pecah di Festival Budaya Lembah Baliem Papua, 2 Orang Jadi Korban
-
Amran Sulaiman Semprot Pengamat Pangan: Saat Impor Diam, Swasembada Malah Teriak!
-
Bukan Cuma Enak, Ini Alasan Udang Sulsel Jadi Favorit Orang Jepang
-
7 Cara Pakai Concealer Bawah Mata Agar Tidak Crack dan Halus Seharian
-
Flawless Tanpa Dempul! 3 Foundation Full Coverage Buat Tutupi Bekas Jerawat
-
Kang Edai dan Kemiren: Ketika Budaya Osing Menjadi Jalan Menuju Kesejahteraan Desa
-
Pembunuhan Bos Konter HP Ambarawa: Pelaku Siapkan Palu Sebelum Beraksi, Sempat Kembali Datangi TKP
-
SIM Digital Berlaku Sah Pengganti Kartu Fisik, Begini Cara Aktivasinya di HP
-
Nyoman Nadiana, Les Grow, dan Astra: Modal Lokal VS Pendampingan Tepat
-
Daftar Mobil yang Wajib Dicoba Langsung Para Perempuan di Area Test Drive GIIAS 2026