Suara.com - Selama ini, kita mungkin tidak pernah terpikirkan bagaimana rupa dari manusia hybrid, mahkluk kloning, atau cyborg. Tapi, mulai tanggal 5 Agustus ini, rupa makhluk-makhluk tersebut bisa Anda saksikan do ArtScience Museum Singapura.
Acara ini dipersembahkan dalam kolaborasi dengan Institute for Culture Exchange, Patricia Piccinini: We Are Connected dan juga sebagai pameran tunggal besar pertama oleh seniman Australia di Asia Tenggara, yang menyatukan lebih dari 40 karya seni penting yang memadukan seni dan sains.
Selama 30 tahun terakhir, Piccinini telah mengeksplorasi perkembangan hubungan antara manusia dan alam seiring dengan kemajuan bioteknologi seperti rekayasa genetika. Sejak itu, ia muncul sebagai salah satu seniman kontemporer terkemuka dunia, mewakili Australia di Venice Biennale pada tahun 2003 dan mengadakan pertunjukan solo terkemuka di Eropa, Amerika Serikat, Amerika Selatan, Australia, dan Asia.
Koleksi patung hewan hiper realistisnya dihidupkan melalui proses canggih yang menggabungkan bahan silikon, gelas fiber, resin, cat otomotif, dan komponen tidak lazim seperti rambut manusia. Makhluk yang tidak biasa dan menakjubkan ini tidak seperti makhluk buatan dan alami, merangkul potensi bentuk kehidupan baru dan tubuh manusia yang selalu berubah di mana memungkinkan untuk muncul dari era digital zaman sekarang ini.
Terlepas dari penampilan karyanya yang tidak biasa, Piccinini menggambarkan makhluk hibridanya dalam skenario sehari-hari melalui instalasi yang hidup. Dalam narasi futuristik namun domestik ini, kerentanan dan kelembutan ditampilkan, mendorong rasa empati di antara hadirin dalam menghadapi hal-hal yang tidak dikenal. Dengan membayangkan komunitas dan kekerabatan baru lintas spesies dan merenungkan cita-cita masyarakat, pengunjung didorong untuk mengadopsi perspektif yang berbeda ketika berhubungan dengan orang lain.
“Sebagai museum yang menggabungkan seni dan sains, kami sangat senang mempersembahkan pameran besar pertama di Asia Tenggara oleh seniman terkenal dunia, Patricia Piccinini. Selama tiga dekade terakhir, patung makhluk hibrida Piccinini yang sangat nyata telah dimainkan di tengah-tengah lintas sains, teknologi, dan etika," kata Honor Harger, Vice President ArtScience Museum and Attractions di Marina Bay Sands, dalam siaran pers resminya.
"Menggambarkan kemungkinan lompatan evolusioner dan mutasi yang tidak biasa, karyanya merayakan semua yang berbeda dan menantang batas antara manusia, hewan, dan tumbuhan. Mereka membayangkan kembali hubungan yang berbeda antara manusia dan alam – yang setara dan memiliki pandangan yang sama,” katanya lagi.
“Dengan bertemu makhluk lembut dan surealisnya, kami mengeksplorasi kecemasan dan harapan terkait kemajuan ilmiah baru seperti rekayasa genetika dan kloning, serta hubungan kita yang saling berkaitan dengan semua makhluk hidup. Patricia Piccinini: We Are Connected pada akhirnya merupakan sebuah pameran yang mengundang pengunjung dari segala usia untuk merenungkan kemungkinan masa depan kita dan menemukan puisi serta keindahan dalam keterhubungan, keanehan dan keberagaman,” tambah Honor.
Piccinini sendiri mengaku tertarik untuk merefleksikan pengalaman hidup kontemporer. Menurutnya, ada begitu banyak tantangan yang dihadapi manusia di dunia saat ini, tetapi ia percaya bahwa ada jalan ke depan melalui seni dan hubungan antar makhluk.
Baca Juga: Ini yang Bikin Konsumen Penasaran Saat Ada Pameran Otomotif
"Saat ini, semakin sulit untuk mengetahui di mana teknologi dimulai dan alam berakhir. Mungkin ini merupakan kesempatan untuk membayangkan kembali hubungan kita dengan alam. Mungkin kita bisa kembali melihat diri kita sebagai bagian dari alam, sehingga merawat dunia juga berarti merawat diri kita sendiri,” ujarnya.
Terdapat tujuh bagian utama dalam pameran yang menampilkan patung, instalasi, video, dan kolase oleh seniman dari awal 2000-an hingga 2021. Beberapa masalah yang dihadapi dalam karyanya yaitu pengeditan DNA, kloning, koneksi antar spesies, intervensi ilmiah, evolusi, dan peran mereka di masa sekarang serta masa depan berdasarkan tantangan bioetika yang terkait dengan manipulasi manusia terhadap alam.
Dalam semesta yang diciptakan Piccinini, anak-anak dan orang dewasa sama-sama diundang untuk melangkah ke dunia kekerabatan antar spesies yang penuh kasih, di mana pesan empati dan kepedulian dikomunikasikan tidak hanya untuk makhluk dan tumbuhan yang kita bagi di planet ini, tetapi juga mereka yang akan mengikutinya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Merah Putih Berkibar di 4 Negara, WNI Ikut Doakan Korban Gempa NTT
-
Bocoran Xiaomi 18 Versi Standar Baru, Siap Meluncur Desember Nanti!
-
Kado Merdeka di Balik Jeruji: 718 Napi Lapas Bandar Lampung Dapat Remisi, Satu Orang Langsung Pulang
-
6 Cara Membaca Birth Chart Astrologi untuk Pemula, Mulai dari Big Three
-
Tiru Sukses India, Gerindra Beberkan Alasan Prabowo Perjuangkan Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora
-
BBRI Diborong Saat IHSG Melemah, Analis Ungkap Proyeksi Pasar Saham Hari Ini
-
Wall Street Melemah, IHSG Diproyeksi Sideways Cenderung Menguat Hari Ini
-
5 Cara Touch Up Bedak Padat di Atas Makeup yang Mulai Luntur agar Wajah Kembali Flawless
-
Apes! Peras Pemain Judol, Dua Polisi di Gresik Malah Dikepung Massa
-
Kantor dan Sekolah Boleh WFH atau PJJ 18 Agustus, Ini Skema dari Pemerintah