Penyebab anak di bawah umur melakukan tindakan kejahatan
Terdapat sejumlah faktor yang melatarbelakangi anak di bawah umur melakukan tindakan kejahatan antara lain: pola asuh orang tua, lingkungan hingga kemajuan teknologi.
Fitri menyebut orang tua menjadi sekolah pertama bagi anak untuk menanamkan nilai-nilai, afeksi, empati hingga pengetahuan umum sebagai bekal kehidupan. Orang tua juga berperan penting untuk membentuk karakter anak.
"Karena internalisasi nilai pada anak dibentuk dari bagaimana pola asuh orang tua. Bagaimana ortu mencontohkan perilaku pada anak, afeksi untuk memupuk kecerdasan emosional buah hati," kata Fitri.
Tak hanya pola asuh orang tua, lingkungan tempat tinggal, sekolah hingga teman bermain juga bisa menjadi pemicu anak untuk melakukan kejahatan.
Selain itu, di zaman yang serba canggih ini tindakan kriminal yang dilakukan anak di bawah umur juga bisa dilatarbelakangi oleh tontonan yang sering dilihat.
"Kemajuan teknologi terutama gadget akan mempengaruhi pola pikir anak entah melalui yang ditonton lewat TV, medsos, YouTube atau yang lainnya," imbuh Fitri.
Apakah anak-anak di bawah umur zaman kekinian cenderung sensitif?
Terkait hal itu, Fitri memiliki pandangan kasuistik atau tergantung dengan keunikan dari fenomena yang ditemukan.
Baca Juga: Psikologi Remaja, Mengatasi Krisis Identitas dan Tekanan Sosial
"Ada yang memang cenderung memiliki trauma, ada yang ingin mencari perhatian yang tidak diberikan maksimal oleh orang tua, ada juga karena pengaruh gadget sehingga dewasa sebelum waktunya," beber psikolog lulusan UII tersebut.
Lebih lanjut, Fitri menerangkan sejatinya tanda-tanda keresahan pada anak bisa dikenali, namun tergantung kepekaan orang tua dan orang-orang di sekeliling.
"Pembentukan bonding yang kuat dari orang tua sangat mungkin membuat anak terbuka untuk menyampaikan perasaannya ataupun bercerita tentang apa yang sedang dialami," tukas Fitri.
Menurut Fitri, anak di bawah umur yang menjadi pelaku kajahatan belum mampu berpikir secara dewasa dan menyeluruh terutama tentang dampaknya secara jangka panjang, sehingga dapat dikatakan sebagai korban. Anak perlu situasi yang nyaman untuk menceritakan perasaannya.
Tindakan preventif untuk menghindarkan remaja jadi pelaku kejahatan
Ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk mencegah tindakan kriminal oleh anak di bawah umur. Hal itu bisa dimulai dari intervensi sejak dini.
Orang tua atau wali memiliki peran penting untuk membantu anak agar terhindar dari jebakan yang mengarah ke perilaku kriminal. Mengutip Silvalegal, berikut 5 cara yang bisa dilakukan.
1. Mengenali faktor risiko
Orang tua perlu mengenali sejumah faktor yang berpotensi menjeremuskan anak ke dalam tidak kejahatan mulai dari kurangnya pengawasan, masalah ekonomi, teman sebaya hingga paparan aktivitas kriminal. Deteksi dini dalam mengatasi potensi masalah perlu dilakukan sebelum kebablasan.
2. Membangun ikatan keluarga yang kuat
Anak-anak yang merasa didukung dan tumbuh dari lingkungan keluarga yang hangat cenderung tidak mencari validasi lewat perilaku negatif. Komunikasi yang terbuka, konsisten dan menghabiskan waktu bersama dapat membantu untuk membangun kepercayaan dan pengertian.
3. Mendorong untuk berkegiatan positif
Untuk mengurangi risiko keterlibatan kriminal oleh anak di bawah umur, juga dapat dilakukan lewat kegiatan yang konstruktif. Orang tua dapat mengarahkan anak untuk menjalani aktivitas positif seperti olahraga, seni ataupun kegiatan sosial.
Di sekolah, anak juga dapat menyalurkan waktu energi positif mereka melalui kegiatan ekstrakurikuler untuk menunjang keterampilan hidup, sikap disiplin, tekun dan kerja sama tim.
4. Ajarkan akuntabilitas dan konsekuensi
Orang tua berhak menetapkan batasan yang jelas dan menegaskan konsekuensi atas perilaku buruk yang dilakukan anak supaya mereka memahami bahwa tindakan tersebut berdampak di dunia nyata. Pendekatan ini dapat mengembangkan rasa tanggung jawab dan mempersiapkan mereka untuk membuat pilihan yang lebih bijak.
5. Layanan konseling
Selain dari lingkup keluarga, anak di bawah umur bisa mendapatkan dukungan tambahan melalui program komunitas, mentor ataupun layanan konseling. Dukungan dan bimbingan dari luar ini dapat membantu anak memperkuat nilai-nilai yang diajarkan di rumah, selain untuk menawarkan perspektif yang tidak didapat dari orang tua demi menghindari pikiran jahat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
3 Sepatu Running BRODO untuk Lari 5-10K, Cek Harga dan Perbedaannya
-
Kipas Angin Berisik saat Dinyalakan? Ini Penyebab dan Cara Praktis Mengatasinya
-
5 Sunscreen yang Mengandung Niacinamide untuk Bikin Glowing dan Mencerahkan
-
Daftar Tanggal Lahir Paling Beruntung Menurut Feng Shui, Begini Perhitungannya
-
Siapa Zodiak Paling Pelit? Mengungkap Tabir Keuangan Para Bintang
-
Kamar Anak Jadi Ruang Tumbuh Pertama, Orang Tua Perlu Perhatikan Hal Ini
-
Apakah Sunscreen Minipink Sudah BPOM? Ini Informasi Produk, Keamanan, dan Harga Mulai Rp10 Ribuan
-
5 Manfaat Merendam Wajah dengan Air Es di Pagi Hari Menurut Ahli
-
Apakah Sunscreen Bisa Kedaluwarsa? Ini Faktanya!
-
7 Sepatu Hiking Brand Lokal Mulai Rp240 Ribuan: Anti Slip, Stylish dan Tahan Banting