Lifestyle / Komunitas
Kamis, 12 Desember 2024 | 08:42 WIB
Kriminal anak. (Ema/Suara.com)

Penyebab anak di bawah umur melakukan tindakan kejahatan

Terdapat sejumlah faktor yang melatarbelakangi anak di bawah umur melakukan tindakan kejahatan antara lain: pola asuh orang tua, lingkungan hingga kemajuan teknologi.

Fitri menyebut orang tua menjadi sekolah pertama bagi anak untuk menanamkan nilai-nilai, afeksi, empati hingga pengetahuan umum sebagai bekal kehidupan. Orang tua juga berperan penting untuk membentuk karakter anak.

"Karena internalisasi nilai pada anak dibentuk dari bagaimana pola asuh orang tua. Bagaimana ortu mencontohkan perilaku pada anak, afeksi untuk memupuk kecerdasan emosional buah hati," kata Fitri.

Tak hanya pola asuh orang tua, lingkungan tempat tinggal, sekolah hingga teman bermain juga bisa menjadi pemicu anak untuk melakukan kejahatan.

Selain itu, di zaman yang serba canggih ini tindakan kriminal yang dilakukan anak di bawah umur juga bisa dilatarbelakangi oleh tontonan yang sering dilihat.

"Kemajuan teknologi terutama gadget akan mempengaruhi pola pikir anak entah melalui yang ditonton lewat TV, medsos, YouTube atau yang lainnya," imbuh Fitri.

Apakah anak-anak di bawah umur zaman kekinian cenderung sensitif?

Terkait hal itu, Fitri memiliki pandangan kasuistik atau tergantung dengan keunikan dari fenomena yang ditemukan.

Baca Juga: Psikologi Remaja, Mengatasi Krisis Identitas dan Tekanan Sosial

"Ada yang memang cenderung memiliki trauma, ada yang ingin mencari perhatian yang tidak diberikan maksimal oleh orang tua, ada juga karena pengaruh gadget sehingga dewasa sebelum waktunya," beber psikolog lulusan UII tersebut.

Lebih lanjut, Fitri menerangkan sejatinya tanda-tanda keresahan pada anak bisa dikenali, namun tergantung kepekaan orang tua dan orang-orang di sekeliling.

"Pembentukan bonding yang kuat dari orang tua sangat mungkin membuat anak terbuka untuk menyampaikan perasaannya ataupun bercerita tentang apa yang sedang dialami," tukas Fitri.

Menurut Fitri, anak di bawah umur yang menjadi pelaku kajahatan belum mampu berpikir secara dewasa dan menyeluruh terutama tentang dampaknya secara jangka panjang, sehingga dapat dikatakan sebagai korban. Anak perlu situasi yang nyaman untuk menceritakan perasaannya.

Tindakan preventif untuk menghindarkan remaja jadi pelaku kejahatan

Ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk mencegah tindakan kriminal oleh anak di bawah umur. Hal itu bisa dimulai dari intervensi sejak dini.

Orang tua atau wali memiliki peran penting untuk membantu anak agar terhindar dari jebakan yang mengarah ke perilaku kriminal. Mengutip Silvalegal, berikut 5 cara yang bisa dilakukan.

1. Mengenali faktor risiko

Orang tua perlu mengenali sejumah faktor yang berpotensi menjeremuskan anak ke dalam tidak kejahatan mulai dari kurangnya pengawasan, masalah ekonomi, teman sebaya hingga paparan aktivitas kriminal. Deteksi dini dalam mengatasi potensi masalah perlu dilakukan sebelum kebablasan.

2. Membangun ikatan keluarga yang kuat

Anak-anak yang merasa didukung dan tumbuh dari lingkungan keluarga yang hangat cenderung tidak mencari validasi lewat perilaku negatif. Komunikasi yang terbuka, konsisten dan menghabiskan waktu bersama dapat membantu untuk membangun kepercayaan dan pengertian.

3. Mendorong untuk berkegiatan positif

Untuk mengurangi risiko keterlibatan kriminal oleh anak di bawah umur, juga dapat dilakukan lewat kegiatan yang konstruktif. Orang tua dapat mengarahkan anak untuk menjalani aktivitas positif seperti olahraga, seni ataupun kegiatan sosial.

Di sekolah, anak juga dapat menyalurkan waktu energi positif mereka melalui kegiatan ekstrakurikuler untuk menunjang keterampilan hidup, sikap disiplin, tekun dan kerja sama tim.

4. Ajarkan akuntabilitas dan konsekuensi

Orang tua berhak menetapkan batasan yang jelas dan menegaskan konsekuensi atas perilaku buruk yang dilakukan anak supaya mereka memahami bahwa tindakan tersebut berdampak di dunia nyata. Pendekatan ini dapat mengembangkan rasa tanggung jawab dan mempersiapkan mereka untuk membuat pilihan yang lebih bijak.

5. Layanan konseling

Selain dari lingkup keluarga, anak di bawah umur bisa mendapatkan dukungan tambahan melalui program komunitas, mentor ataupun layanan konseling. Dukungan dan bimbingan dari luar ini dapat membantu anak memperkuat nilai-nilai yang diajarkan di rumah, selain untuk menawarkan perspektif yang tidak didapat dari orang tua demi menghindari pikiran jahat.

Load More