- Desa Lobohede Sabu Raijua mengawinkan teknologi dan kearifan lokal melalui penempatan sumur resapan di perkebunan guna efisiensi irigasi petani.
- Inovasi program ini mencakup adopsi Pupuk Organik Cair (POC) dengan memanfaatkan kuatnya struktur sosial berbasis marga untuk penyebaran cepat.
- Keberhasilan program ini juga diperkuat tradisi gotong royong desa, meskipun masih terdapat kebutuhan dukungan teknis seperti dinamo untuk distribusi air.
Suara.com - Bentang alam Nusa Tenggara Timur terbilang menantang. Stepa atau semi-kering. Kondisi ini menjadi santapan sehari-hari warga di sana. Namun, ada perubahan sunyi yang tengah tumbuh di Desa Lobohede, Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua. Mereka mengawinkan teknologi dan kearifan lokal. Tujuannya berdamai dengan iklim yang menantang.
Ya, lazimnya sumur memang dibangun di dekat permukiman guna memudahkan pemenuhan kebutuhan domestik. Tapi berbeda di Desa Lobohede. Strategi yang diambil malah sebaliknya. Sumur resapan malah sengaja ditempatkan di area perkebunan warga. Logika penempatan tersebut sangat praktis. Menurut mereka, di situlah air justru banyak dibutuhkan.
Menurut Rido dari Komunitas Bacarita Pangan Lokal (Bapalok) yang membersamai inovasi tersebut, lokasi sumur yang berada di tengah perkebunan bukan tanpa alasan. Sumur ditempatkan di tengah perkebunan untuk membantu para petani. Terbukti, beban kerja petani berkurang drastis sejak dibuatnya sumur tersebut.
“Sumur-sumur ini sengaja kami tempatkan di kebun warga karena di situlah sumber air paling dibutuhkan,” ujar Rido dalam kunjungan bersama tim Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, Yayasan Pikul dan Komunitas Bapalok ke Desa Lobohede, Jumat (16/1/2026).
Adapun strategi melalui teknologi yang menjadi bagian dari program GEF SGP Indonesia Fase 7, ini cukup manjur mendukung pengembangan kebun gizi. Petani tidak lagi memikul air dari jarak jauh. Jadi, energi mereka bisa dialokasikan sepenuhnya untuk mengintensifkan tanaman pangan lokal. Ini adalah langkah kunci dalam menjaga ketahanan pangan dari halaman rumah sendiri.
Selain itu, penempatan strategis ini membuka peluang besar bagi pengembangan kebun gizi yang juga menjadi fokus program. Akses air yang memadai di area perkebunan memungkinkan masyarakat mengembangkan tanaman pangan lokal dengan lebih intensif. Hal ini sekaligus menjaga ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.
Kekuatan Marga dalam Pertanian Organik
Inovasi di Desa Lobohede nggak cuma setop pada urusan infrastruktur air. Program ini juga memperkenalkan Pupuk Organik Cair (POC). Entitas ini menjadi jawaban atas ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal dan merusak tanah. Menariknya, proses adopsi teknologi ini di Desa Lobohede berjalan sangat cepat.
Elisabeth Ester dari Yayasan Pikul mencatat bahwa masyarakat setempat sebenarnya sudah karib dengan konsep pertanian organik. Dengan begitu, mereka terlalu tidak sulit untuk beralih ke pupuk organik cair. Kendati begitu, kunci sukses yang sebenarnya justru terletak pada pendekatan berbasis marga. Seperti apa pendekatan berbasis marga?
Baca Juga: Evolusi Ekonomi Sabu Raijua, Mengubah Komoditas Lokal Menjadi Bisnis Hijau Inklusif
Dalam struktur sosial di Desa Lobohede, menurut Ester, ikatan keluarga atau klan sangatlah kuat. Program ini memanfaatkan modal sosial tersebut sebagai motor penggerak. Melalui sistem tersebut, kelompok produksi POC tidak hanya menjadi unit bisnis, tetapi juga ruang belajar kolektif antarkeluarga.
“Pendekatan berbasis marga ini kekuatannya luar biasa. Ketika satu anggota marga melihat manfaatnya, penyebarannya cepat ke anggota marga yang lain. Ini modal sosial yang sangat berharga,” ungkap Ester.
Menurut Ester, saat ini tantangannya adalah bagaimana memperluas penerima manfaat agar lebih banyak keluarga yang bisa merasakan dampaknya. Adapun Kelompok produksi POC yang telah terbentuk di desa ini memanfaatkan sistem marga sebagai pendekatan mobilisasi.
Gotong Royong: Napas Kemandirian Desa
Kepala Desa Lobohede Obi Labu menyambut baik seluruh strategi melalui program tersebut. . Bagi dia, program GEF SGP Indonesia Fase 7 bukan sekadar memberikan bantuan fisik, melainkan memperkuat nilai-nilai luhur yang sudah lama ada.
“Kami memang punya tradisi gotong royong yang kuat. Program ini justru memperkuat ikatan itu dengan memberikan tujuan yang jelas: air untuk semua,” tuturnya saat berdialog dengan tim kunjungan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Meledak! ! Ahmad Dhani Serang Maia Estianty Sampai Ungkit Dugaan Perselingkuhan dengan Petinggi TV
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Promo Alfamart Gajian Untung 1 Mei 2026: Diskon Frozen Food, Susu, hingga Mi Instan Murah
-
Update Harga BBM per 1 Mei 2026: Pertalite, Pertamax, hingga Dexlite
-
Saat Regulasi Bertemu Realitas: Upaya Nyata Menjaga Kesehatan Mental Pekerja Rumah Tangga
-
Apa Arti Tut Wuri Handayani? Jadi Slogan Pendidikan Indonesia
-
Kenapa 1 Mei disebut Hari Buruh? Ini Sejarah dan Tragedi di Baliknya
-
BPDP Buka Pendaftaran Grant Riset 2026, Fokus pada Penelitian Berdampak
-
30 Twibbon Hari Pendidikan Nasional, Kualitas Jernih Siap Pakai!
-
Tatah 2026: Saat Ukir Jepara Naik Kelas dari Komoditas ke Karya Seni Dunia
-
Asal-usul Hari Buruh di Indonesia hingga Ditetapkan Jadi Libur Nasional, Sarat Perjuangan
-
Terpopuler: Sanksi Jika Terlambat Lapor SPT, Urutan Skincare Viva untuk Hempas Flek Hitam