Lifestyle / Komunitas
Rabu, 18 Februari 2026 | 18:00 WIB
Ilustrasi Salat Tarawih [Gemini AI]

Jumlah Rakaat Salat Tarawih Secara Umum

Ibadah tarawih merupakan salat sunnah yang pengerjaannya dilaksanakan pada malam hari di bulan Ramadhan, dengan jumlah rakaat secara umum sebanyak 8, 20 dan 36 rakaat.

Berkaitan dengan pelaksanaannya, pembagian rakaat tarawih umumnya dilakukan kelipatan 2 rakaat salam. Namun, ada juga yang menggunakan sistem 4 rakaat satu salam.

Hingga memicu munculnya pertanyaan di antara orang awam tentang bolehkah melaksanakan tarawih 4 rakaat?

Cara tersebut tetap diperbolehkan dengan mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Seperti apakah itu? Simak penjelasan berikut ini.

Bolehkah Salat Tarawih 4 Rakaat?

Jika merujuk pada Nahdlatul Ulama, salat tarawih 4 rakaat tetap sah dilakukan. Sebagaimana Rasulullah SAW juga pernah mengerjakannya.

Ketentuan tersebut terdapat dalam penjelasan hadis dari Aisyah berikut ini.

Nabi bersabda:

Baca Juga: Update Tarif Listrik Selama Ramadan dan Lebaran 2026

مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه سلّم يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَ لاَ فِي غَيْرِهِ إِحْدَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً

Artinya: “Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan selain Ramadhan dari 11 rakaat. Beliau shalat empat rakaat sekali salam, maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya, kemudian shalat empat rakaat lagi sekali salam maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat witir tiga rakaat.” (HR Muslim)

Rasulullah SAW juga pernah melaksanakan tarawih lebih dari 4 rakaat lalu salam, sebagaimana tercantum dalam hadis berikut ini.

كُناَّ نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَ طَهُوْرَهُ، فَيَـبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ أَنْ يَـبْعَثَهُ مِنَ الَّيْلِ، فَيَتَسَوَّكُ وَ يَتَوَضَأُ وَ يُصَلِى تِسْعَ رَكْعَةٍ لاَ يَـجْلِسُ فِيْهَا إِلاَّ فِي الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ، ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعْناَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِمُ وَ هُوَ قَاعِدٌ

Artinya: ”Kami dahulu biasa menyiapkan siwak dan air wudhu untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atas kehendak Allah dia selalu bangun malam hari, juga tatkala dia bangun tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Kemudian dia melakukan shalat malam atau tarawih 9 rakaat yang dia tidak duduk kecuali pada rakaat yang kemudian kemudian membaca pujian kepada Allah dan shalawat dan melakukan dan tidak salam, kemudian bangkit berdiri untuk rakaat yang kemudian duduk tahiyat akhir dengan membaca dzikir, kepada Allah, shalawat dan berdoa terus salam dengan suara yang didengar oleh kami. Kemudian beliau melakukan sholat lagi dua rakaat dalam keadaan duduk.” (HR. Muslim 1233 marfu', mutawatir).

Kontributor : Damayanti Kahyangan

Load More