Karena itu, penting untuk memahami bahwa yang tidak diperbolehkan adalah menjual uang dengan uang sejenis dalam jumlah yang tidak sama.
Solusi agar transaksi tetap sah adalah mengubah akadnya, bukan sebagai jual beli uang, melainkan sebagai jasa penukaran uang (ijarah).
Dalam akad ijarah, yang diperjualbelikan bukan uangnya, melainkan jasa si penukar uang.
Contohnya, seseorang menyerahkan Rp100.000 untuk ditukar dengan pecahan baru senilai Rp100.000, lalu ia memberikan upah jasa sebesar Rp20.000 kepada penyedia layanan.
Dengan demikian, nominal uang yang ditukar tetap sama, sementara tambahan Rp20.000 adalah bayaran atas jasa, bukan kelebihan dalam pertukaran uang.
Perbedaan akad ini sangat penting. Jika niat dan kesepakatannya adalah jual beli uang, maka tambahan nominal menjadi riba.
Namun, jika disepakati sebagai pembayaran jasa penukaran, maka hukumnya boleh. Inilah yang ditegaskan dalam berbagai literatur fikih, termasuk dalam kitab Fathul Qorib yang menjelaskan bahwa riba terjadi pada pertukaran dua barang sejenis apabila tidak memenuhi syarat kesamaan dan tunai.
Sayangnya, masih banyak penjaja uang baru yang tidak memahami detail hukum ini. Mereka menyebut praktiknya sebagai “jual beli uang baru”, padahal secara syariat lebih tepat disebut “jasa penukaran uang baru”.
Masyarakat pun sering kali tidak terlalu memperhatikan akadnya. Yang penting mendapatkan pecahan baru dengan cepat, tanpa memikirkan apakah ada unsur riba di dalamnya.
Baca Juga: Cara Cek dan Daftar Antrean Penukaran Uang PINTAR BI
Tips Terhindar dari Riba
Agar terhindar dari praktik riba, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat menukar uang menjelang Lebaran seperti berikut:
1. Pahami konsep dan bahaya riba.
Dalam Islam, riba merupakan dosa besar yang dilarang keras. Dampaknya bukan hanya pada aspek spiritual, tetapi juga dapat merusak keberkahan harta. Dengan memahami bahayanya, seseorang akan lebih berhati-hati dalam bertransaksi.
2. Pastikan setiap transaksi dilakukan secara jelas dan transparan.
Tanyakan akad yang digunakan saat menukar uang. Jika ada tambahan biaya, pastikan itu disebut sebagai upah jasa, bukan kelebihan dalam jual beli uang.
3. Biasakan bertransaksi melalui lembaga keuangan syariah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Mimpi Bertemu Orang yang Sudah Meninggal Pertanda Apa? Ini Artinya
-
Viral Skincare Berlapis Bisa Rusak Skin Barrier, Kasus Kulit Sensitif Meningkat
-
7 Rekomendasi Sepatu Jalan Nyaman untuk Traveling Agar Kaki Tidak Pegal
-
4 Pilihan Sepatu Lari Diadora di Sports Station, Harga Diskon Cuma Rp300 Ribuan
-
Satwa Liar Muncul di Perkotaan, Benarkah Tanda Rusaknya Habitat Alami?
-
Cushion Make Over Tahan Berapa Lama? Ini Varian, Manfaat, dan Harganya
-
4 Doa Buka Puasa Arafah 9 Zulhijah Lengkap Tulisan Arab, Latin, dan Artinya
-
Cuma Sampai Magrib! Baca Zikir Singkat Ini di Hari Arafah, Amalannya Dipakai Para Nabi
-
3 Rekomendasi Pelembap Mengandung Zinc Oxide, Bisa Redakan Kemerahan hingga Kontrol Sebum
-
Bedak Dingin Fungsinya untuk Apa? Ini 3 Rekomendasi Produknya