Suara.com - Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah Israel tidak hanya menyoroti Iran, tetapi juga mulai melihat Turki sebagai ancaman baru bagi keamanan negaranya.
Sikap Israel terhadap Ankara berubah belakangan ini karena Turki dikenal sering mengkritik aksi militer Israel di Gaza, di tengah konflik terbuka Israel-Iran yang memicu serangan udara dan balasan rudal.
Mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, memperingatkan bahwa Turki bisa menjadi bagian dari kelompok negara yang menentang Israel.
Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berencana membangun aliansi baru dengan beberapa negara, seperti Yunani dan Siprus, untuk menghadapi apa yang disebutnya "sumbu Sunni yang mulai muncul".
Di tengah perhatian terhadap ancaman dari Iran dan Turki, perbincangan tentang wilayah dan ambisi Israel juga kembali mencuat.
Konsep "Greater Israel" muncul sebagai salah satu wacana penting, menyinggung kemungkinan Israel memperluas wilayahnya lebih jauh dari batas saat ini. Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa Itu Greater Israel?
Mengutip dari Al Jazeera, Greater Israel atau Eretz Yisrael Hashlema dalam bahasa Ibrani, adalah gagasan ideologis yang ingin Israel menguasai wilayah lebih luas dari batas negara saat ini.
Konsep ini berasal dari interpretasi ayat Alkitab yang menyebut "tanah yang dijanjikan", mencakup wilayah dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Efrat di Irak, dan secara historis bisa meliputi sebagian Jordan, Suriah, Lebanon, Irak, Arab Saudi, bahkan bagian selatan Turki.
Baca Juga: 5 Fakta Hubungan Megawati dengan Ali Khamenei, Kini Kirim Surat Duka Cita
Meski terdengar besar, sebagian besar warga Israel hanya mendukung penguasaan wilayah yang dekat dengan negara mereka sekarang, seperti Tepi Barat, Gaza, dan Dataran Tinggi Golan.
Beberapa kelompok sayap kanan mendorong perluasan wilayah lebih jauh melalui pembangunan permukiman.
Intinya, Greater Israel bukan hanya soal wilayah, tapi juga soal memperkuat pengaruh Israel di Timur Tengah. Gagasan ini tetap kontroversial karena bisa menimbulkan ketegangan dengan negara tetangga, meski beberapa politisi sayap kanan mendukungnya.
Ancaman Turki bagi Israel
Sementara itu, Turki dianggap sebagai ancaman baru oleh Israel meski hubungan kedua negara berbeda dengan permusuhan terhadap Iran.
Turki mengecam keras tindakan Israel terhadap Palestina, termasuk perang di Gaza, dan semakin memperkuat hubungan dengan negara-negara Arab seperti Arab Saudi dan Mesir.
Berita Terkait
-
5 Fakta Hubungan Megawati dengan Ali Khamenei, Kini Kirim Surat Duka Cita
-
Perang Lawan Iran Belum Kelar, Israel Kini Sebut Turki Target Selanjutnya
-
2 Kapal Tanker Pertamina Terjebak Perang Iran vs AS - Israel, Stok BBM Nasional Cuma Aman 20 Hari?
-
Viral Warganet Temukan Rudal Sudah Siaga di Jawa Timur, Benarkah?
-
Ancaman Iran di Selat Hormuz: Harga Minyak Dunia di Ambang Krisis
Terpopuler
Pilihan
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
-
Dua Kapal Tanker Pertamina Masih di Selat Hormuz, Begini Nasib Awaknya
Terkini
-
Kekayaan Sekda Pekalongan Mohammad Yulian Akbar Terungkap Usai OTT KPK, Tembus Rp3 Miliar
-
Tanggal Merah Maret 2026 Ada Berapa? Ini Daftar Resminya Menurut SKB 3 Menteri
-
5 Seri iPhone yang Harganya Terjun Bebas di Awal 2026, Mulai Rp8 Jutaan
-
Nuanu Creative City di Bali Usung Konsep 'Kota 15 Menit', Semua Fasilitas Bisa Dijangkau Jalan Kaki
-
Makna Malam Lailatul Qadar: Malam Penuh Kemuliaan yang Dinanti Umat Islam
-
5 Fakta Hubungan Megawati dengan Ali Khamenei, Kini Kirim Surat Duka Cita
-
Perang Lawan Iran Belum Kelar, Israel Kini Sebut Turki Target Selanjutnya
-
Kapan Bonus Hari Raya untuk Ojol Cair? Cek Daftar Penerima BHR
-
4 Zodiak Paling Beruntung Hari Ini 4 Maret 2026: Capricorn dan Gemini Banjir Cuan
-
Biodata dan Agama Mohammad Yulian Akbar, Sekda Pekalongan Dicokok KPK Bersama Fadia Arafiq