Meski begitu, Beijing secara konsisten menjaga batas dalam kemitraannya dengan Teheran, terutama dalam urusan militer. Pemerintah China cenderung menghindari keterlibatan langsung dalam konflik bersenjata di luar wilayahnya.
Dalam konflik Iran kali ini, China lebih memilih mendorong dialog dan de-eskalasi. Beijing bahkan aktif berkomunikasi dengan berbagai pihak di kawasan untuk mencegah konflik meluas.
Pendekatan ini sejalan dengan strategi China yang ingin dipandang sebagai kekuatan yang menjaga stabilitas kawasan, bukan sebagai pihak yang memperkeruh konflik.
Selain prinsip politik, kepentingan ekonomi juga menjadi alasan penting di balik sikap China terhadap perang Iran.
Meskipun China merupakan salah satu pembeli utama minyak Iran, hubungan energi Beijing di Timur Tengah sebenarnya jauh lebih luas. China mengimpor minyak dalam jumlah besar dari berbagai negara Teluk seperti Arab Saudi dan negara Arab lainnya.
Bahkan sebagian besar kebutuhan energi China berasal dari negara-negara tersebut, bukan dari Iran. Jika Beijing secara terbuka membantu Iran dalam konflik, hubungan dengan negara-negara Teluk berisiko terganggu.
Bagi China, stabilitas kawasan Timur Tengah jauh lebih penting dibandingkan memihak satu negara secara militer. Konflik besar di kawasan tersebut justru dapat mengancam jalur pasokan energi yang sangat vital bagi ekonomi China.
Fokus Strategis China dan Rusia Ada di Tempat Lain
Selain berbagai faktor di atas, baik China maupun Rusia juga memiliki prioritas strategis lain yang lebih mendesak.
China saat ini lebih fokus pada dinamika keamanan di Asia Timur, terutama terkait Taiwan dan persaingan geopolitik dengan Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik. Mengalihkan perhatian militer ke Timur Tengah dinilai tidak memberikan keuntungan strategis yang cukup besar.
Baca Juga: Iran Terharu Tapi Bingung, Banyak Warga China 'Maksa' Kirim Uang Buat Lawan Israel-AS
Sementara itu, Rusia masih berkonsentrasi pada konflik di Eropa Timur serta menjaga keseimbangan kekuatan dengan NATO. Membuka konflik baru di Timur Tengah justru dapat memperumit posisi Moskow di panggung internasional.
Demikianlah penjelasan lengkap terkait kenapa China dan Rusia tidak bantu Iran saat diserang oleh AS-Israel.
Kontributor : Dini Sukmaningtyas
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Sensasi Gelas Beku -86 Derajat Celsius hingga Rasa Okinawa, Ini Cara BeanStar Coffee Ubah Tren Ngopi
-
Micellar Water dan Cleansing Oil Bagus Mana? Ini 4 Rekomendasi Terbaik Bersihkan Makeup
-
5 Mesin Cuci 2 Tabung Low Watt Kapasitas Besar, Harga Termurah Pas Buat Bed Cover
-
5 Rekomendasi Serum Wardah untuk Kulit Cerah Merata dan Skin Barrier Kuat
-
5 Shio Paling Hoki 22 April 2026, Panen Rezeki Tak Terduga
-
5 Opsi AC Portable 1/2 Pk untuk Persiapan El Nino, Ada yang Dijual 2 Jutaan
-
Berapa Harga Sepeda Fixie? Ini 5 Rekomendasi Terbaik Paling Hemat Budget
-
Kartini Masa Kini: Aksi Nyata Prilly Untuk Lingkungan Berkelanjutan
-
Olahraga di Sore Hari Jam Berapa? Ini Rentang Waktu yang Paling Ideal
-
Mengenal UPF, Perlindungan UV Selain Sunscreen yang Sering Diabaikan