Lifestyle / Komunitas
Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB
Ilustrasi perjalanan naik turun harga BBM di Indonesia. [Suara.com/Ema Rohimah]
Baca 10 detik
  • Kenaikan harga BBM menjelang 1 April 2026 dipicu krisis minyak global akibat konflik Iran dengan AS dan Israel.
  • Kenaikan harga BBM Indonesia secara historis dimulai pada 22 November 1965 era Soekarno, sering berfluktuasi.
  • Era kepemimpinan berbeda menunjukkan dinamika harga BBM, dari penurunan signifikan era Habibie hingga pengenalan BBM non-subsidi era Gus Dur.

Suara.com - Kabar kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menghampiri masyarakat Indonesia menjelang 1 April 2026. Kali ini, penyebabnya bukan sekadar kebijakan dalam negeri, melainkan efek domino dari krisis minyak global akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Ketegangan tersebut berdampak langsung pada pasokan minyak dunia. Jalur distribusi strategis terganggu, harga minyak mentah melonjak, dan banyak negara mulai merasakan tekanan energi.

Indonesia pun tak luput dari dampaknya. Wacana kenaikan BBM kembali muncul mengulang siklus yang sebenarnya sudah terjadi berkali-kali sepanjang sejarah bangsa.

Jika menengok ke belakang, perjalanan harga BBM di Indonesia bukan sekadar deretan angka. Ia adalah cerita panjang tentang perubahan zaman, krisis, hingga kebijakan yang diambil untuk menjaga stabilitas negara.

Perjalanan Naik Turun Harga BBM

Era Soekarno

Kisah ini bermula di era Soekarno. Pada 22 November 1965, pemerintah untuk pertama kalinya menaikkan harga BBM. Saat itu, harga premium hanya Rp0,3 per liter, sementara solar Rp0,2.

Namun kondisi ekonomi yang belum stabil membuat harga berubah cepat. Awal 1966, premium sempat melonjak menjadi Rp1, lalu turun lagi menjadi Rp0,5 dalam waktu singkat, sementara solar justru naik. Fluktuasi ini mencerminkan rapuhnya fondasi ekonomi Indonesia di masa awal kemerdekaan.

Era Soeharto

Memasuki era Soeharto, pembangunan besar-besaran membutuhkan biaya, dan harga BBM perlahan ikut naik. Dari Rp150 per liter pada 1980, harga premium melonjak menjadi Rp700 pada 1993, hingga akhirnya mencapai Rp1.200 pada 1998.

Baca Juga: Harga BBM Hari Ini Semua SPBU: Pertamina, BP, Shell dan Vivo

Kenaikan ini terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi salah satu tekanan saat krisis moneter melanda.

Era BJ Habibie

Berbeda dengan periode sebelumnya, masa pemerintahan B. J. Habibie justru menghadirkan kejutan. Harga BBM turun, dari Rp1.200 menjadi Rp1.000 per liter.

Penurunan ini bukan tanpa sebab, melainkan karena harga minyak dunia saat itu memang sedang melemah drastis. Ini menjadi satu-satunya momen dalam sejarah ketika harga BBM turun cukup signifikan karena faktor global.

Era Gus Dur

Cerita berlanjut ke era Abdurrahman Wahid, ketika harga kembali naik. Pada 1 Oktober 2000 harga bbm naik jadi Rp1.150 dan solar Rp600. Lalu pada 1 Juli 2001 premium naik lagi jadi Rp1.450 sedangkan solar Rp1.250

Load More